Sosok Prof Halim, Ulama Akademisi yang Kini Nahkodai MUI Jatim, Ternyata Putra Tokoh Besar Bondowoso
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pergantian kepemimpinan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menghadirkan sosok yang bukan nama baru dalam dunia keilmuan dan keumatan. Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, M.A. kini dipercaya menakhodai MUI Jatim periode 2025–2030, melanjutkan estafet kepemimpinan dengan bekal pengalaman panjang dan dedikasi yang tak singkat.
Dikutip dari online MUI Jatim, Prof. Halim bukan sekadar akademisi. Ia adalah figur yang tumbuh dari tradisi pesantren, mengakar kuat dalam dunia pendidikan Islam, sekaligus konsisten hadir di tengah masyarakat. Lahir pada 4 Januari 1961, ia berasal dari keluarga yang lekat dengan nilai keagamaan. Ayahnya, KH. Bahrul Ulum, dikenal sebagai tokoh asal Bondowoso yang menanamkan fondasi keilmuan sejak dini.
Kini, di kediamannya di Kaliwates, Jember, perjalanan panjang itu terasa seperti rangkaian cerita tentang pengabdian. Bersama istrinya, Dr. Hj. Hamdanah Utsman, M.Hum., yang dinikahinya pada 1987, Prof. Halim membangun keluarga sekaligus menanamkan nilai pendidikan kepada empat anaknya.
Langkahnya di dunia akademik dimulai dari Fakultas Tarbiyah IAIN Jember. Bahkan sebelum resmi menyandang gelar sarjana pada 1987, ia sudah dipercaya menjadi asisten dosen. Peran itu menjadi titik awal perjalanan intelektual yang terus berkembang.
Semangat belajarnya membawanya ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk menempuh studi pascasarjana pada 1988, lalu meraih gelar doktor yang semakin mengokohkan posisinya sebagai akademisi. Sejak kembali ke Jember pada awal 1990-an, ia aktif mengajar dan mengembangkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi Islam.
Tak hanya mengajar, Prof. Halim juga dikenal sebagai perintis sejumlah institusi pendidikan. Dari Situbondo hingga Banyuwangi, bahkan hingga Nusa Tenggara Barat, jejaknya tertanam dalam pendirian dan pengembangan kampus-kampus keagamaan. Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi jalan membangun peradaban.
Kepercayaan terhadap kapasitasnya juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ia ditunjuk sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD), yang mengelola berbagai program beasiswa bagi santri dan mahasiswa.
Program tersebut membuka akses pendidikan hingga ke luar negeri, termasuk ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Peran ini memperlihatkan komitmennya dalam memperluas kesempatan generasi muda untuk menimba ilmu di level global.
Perjalanan panjang itu diiringi berbagai penghargaan. Ia pernah dinobatkan sebagai Dosen Berprestasi oleh Kementerian Agama RI pada 2007, serta Tokoh Pendidikan dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso pada 2012.
Di bidang penelitian, kiprahnya juga diakui secara nasional. Sejumlah penghargaan riset diraih dari lembaga bergengsi, termasuk kerja sama dengan The Ford Foundation dan Kementerian Riset dan Teknologi. Karya-karyanya banyak berfokus pada pendidikan Islam dan pengembangan keilmuan keagamaan.
Namun, salah satu bab paling penting dalam hidupnya adalah pengabdian di MUI. Sejak 1991, sepulang dari Yogyakarta, ia mulai dari posisi staf sekretariat MUI Jember. Perjalanan organisasinya terus menanjak—dari Sekretaris Umum, Ketua I, hingga Ketua Umum MUI Jember selama tiga periode.
Di tingkat provinsi, ia juga memegang peran strategis, mulai dari bidang kajian dan penelitian hingga wakil ketua umum. Kini, setelah lebih dari 35 tahun berkhidmat, ia dipercaya menjadi Ketua Umum MUI Jawa Timur, menggantikan KH. Moh Hasan Mutawakkil Alallah.
Bagi Prof. Halim, jabatan bukanlah tujuan akhir. Ia dikenal sebagai sosok yang berusaha menyatukan tiga hal: ilmu, dakwah, dan pengabdian sosial. Aktivitasnya tak hanya berada di ruang kelas atau forum ilmiah, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Kepemimpinannya di MUI Jawa Timur diharapkan mampu menjaga harmoni, memperkuat peran ulama, serta mendorong pengembangan keilmuan Islam yang relevan dengan tantangan zaman.
Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, kehadiran figur seperti Prof. Halim menjadi harapan tersendiri—bahwa nilai keilmuan dan kebijaksanaan tetap menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang berimbang antara agama dan kebangsaan.
Editor: Arif Ardliyanto