Belajar Jadi Barista hingga Pebisnis Bakery, Cara SMA di Surabaya Ini Bekali Siswa yang Bakal Lulus
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ada suasana berbeda di lingkungan Universitas Wijaya Putra. Aroma kopi dan roti hangat memenuhi ruang pelatihan kampus tersebut selama tiga hari terakhir. Bukan sekadar praktik biasa, kegiatan ini menjadi langkah nyata membekali siswa menghadapi dunia kerja sekaligus menyiapkan mental wirausaha sejak dini.
Melalui program Barista & Baking Class yang berlangsung pada 6–8 Mei 2026, siswa kelas 12 SMA Wijaya Putra Surabaya mendapat pelatihan intensif mengenai industri kuliner modern yang kini berkembang pesat.
Program hasil kolaborasi sekolah dengan Universitas Wijaya Putra ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan konsep sociopreneur atau wirausaha yang memiliki dampak sosial bagi masyarakat.

Selama pelatihan, para siswa diajak langsung mempraktikkan berbagai teknik pembuatan kopi dan produk bakery yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Pada sesi barista, peserta dikenalkan dengan beragam jenis kopi nusantara, teknik manual brew, hingga cara mengoperasikan mesin espresso modern.
Antusiasme siswa terlihat saat mereka mencoba membuat latte art, kemampuan yang saat ini menjadi salah satu keterampilan penting di industri coffee shop dan kafe kekinian.
Tak hanya itu, pada kelas baking para siswa juga mempelajari teknik dasar hingga lanjutan dalam proses pembuatan roti dan pastry. Mereka diajarkan ketepatan pencampuran bahan, teknik fermentasi, hingga cara menciptakan produk bakery modern yang diminati pasar.
Kepala Sekolah SMA Wijaya Putra Surabaya, Andri Priyono mengatakan, program ini sengaja dirancang agar siswa tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki pola pikir entrepreneur yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.
“ Kami mengarahkan mereka untuk menjadi sociopreneur. Artinya, ketika mereka membuka kedai kopi atau usaha bakery nanti, mereka harus berpikir bagaimana usaha tersebut bisa berdampak, misalnya dengan memberdayakan petani lokal atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sembari nantinya melanjutkan studi di UWP,” ujarnya.
Selain praktik kuliner, siswa juga mendapatkan materi mengenai strategi bisnis berkelanjutan. Mereka diajak memahami bagaimana sebuah produk tidak hanya dijual dari rasa, tetapi juga dari cerita dan nilai sosial yang dibangun.
“ Mereka diajak berdiskusi tentang bagaimana sebuah produk kuliner bisa memiliki narasi sosial yang kuat sehingga memberikan nilai tambah bagi konsumen sekaligus lingkungan sekitar,” tambahnya.
Program ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan industri kreatif dan ekonomi modern. Di tengah meningkatnya tren usaha kopi dan bakery di Indonesia, keterampilan seperti ini dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi generasi muda.
Bagi para siswa, pelatihan tersebut bukan sekadar belajar membuat kopi atau roti. Aroma kopi dan pastry yang tercipta selama kegiatan menjadi simbol lahirnya semangat baru generasi muda untuk tumbuh sebagai sociopreneur yang tidak hanya mengejar keuntungan pribadi, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat luas.
Editor: Arif Ardliyanto