Dunia Kerja Berubah, Balai K3 Surabaya Ungkap Bahaya Tersembunyi di Balik Tren WFH dan Kerja Hybrid
Ia menilai K3 modern harus mulai menyentuh aspek kesehatan mental, psikososial, hingga kualitas hidup pekerja agar produktivitas tetap terjaga di tengah perubahan pola kerja yang semakin fleksibel.
“Keselamatan kerja tidak boleh berhenti pada administrasi dan kepatuhan semata. K3 harus menjadi budaya kerja sehari-hari,” katanya.
Sementara itu, Edi Priyanto mengungkapkan bahwa dunia kerja saat ini memasuki era baru, di mana risiko terbesar justru hadir dalam bentuk yang tidak terlihat secara langsung.
Jika sebelumnya tempat kerja mudah diidentifikasi dan diawasi, kini aktivitas kerja dapat dilakukan di mana saja, mulai rumah, kafe, kendaraan, bahkan kamar tidur.
“Dulu tempat kerja jelas dan risikonya mudah dikontrol. Sekarang orang bisa bekerja dari mana saja. Pertanyaannya, apakah sistem K3 ikut berpindah atau justru tertinggal?” ujar Edi.
Ia menyoroti munculnya risiko tersembunyi seperti ergonomi kerja yang buruk, tekanan psikososial, burnout, hingga digital fatigue akibat terlalu lama terkoneksi dengan pekerjaan.
Menurut Edi, fenomena always on culture kini mulai banyak dialami pekerja modern. Secara fisik pekerja terlihat normal karena tetap aktif mengikuti rapat virtual dan menyelesaikan target pekerjaan. Namun di balik itu, banyak yang mengalami kelelahan mental karena sulit memisahkan waktu kerja dan kehidupan pribadi.
“Kondisi seperti ini bisa memicu human error, menurunkan kualitas pengambilan keputusan, hingga meningkatkan risiko incident operasional,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai perusahaan harus segera mengubah paradigma dari workplace safety menjadi work system safety.
Dalam konsep baru tersebut, keselamatan kerja tidak lagi hanya bergantung pada lokasi kerja, tetapi juga dipengaruhi budaya organisasi, pola komunikasi, kepemimpinan, serta pengelolaan beban kerja.
“Keselamatan kerja masa depan bukan hanya melindungi tubuh pekerja, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan keberlanjutan performa bisnis,” tegasnya.
Sebagai solusi, perusahaan didorong mulai menerapkan kebijakan right to disconnect, monitoring beban kerja, virtual ergonomic coaching, program kesehatan mental, hingga no meeting day untuk mengurangi tekanan kognitif pekerja.
Selain itu, peran pimpinan perusahaan juga dinilai harus berubah. Pemimpin tidak lagi hanya bertugas mengawasi pekerjaan, tetapi harus mampu menciptakan sistem kerja yang sehat dan menjaga psychological safety di lingkungan kerja.
Dalam paparannya, Edi juga menampilkan sejumlah praktik global dari perusahaan teknologi dunia yang mulai menjadikan wellbeing dan kesehatan mental sebagai fondasi organisasi modern.
Bahkan, burnout kini telah dikategorikan sebagai occupational phenomenon dalam dunia kerja global.
Melalui forum ini, Balai K3 Surabaya berharap muncul kesadaran baru bahwa K3 bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian penting dari strategi bisnis berkelanjutan di era digital.
“Jika sesuatu tidak diukur maka tidak terlihat. Jika tidak terlihat maka tidak dapat dikelola. Karena itu organisasi harus mulai membangun sistem kerja yang sehat, aman, dan manusiawi,” pungkas Edi Priyanto.
Editor : Arif Ardliyanto