Kota Lama Surabaya Jadi Lokasi Film Zona Merah 2026, Nuansa Zombie Bikin Heboh
Tak hanya soal promosi kota, Pemkot Surabaya juga melihat industri film sebagai peluang menggerakkan ekonomi lokal. Aktivitas produksi disebut melibatkan banyak pelaku usaha, mulai dari UMKM, transportasi, konsumsi, hingga sektor kreatif lainnya.
Antusiasme warga pun terasa selama proses persiapan syuting. Ribuan figuran lokal yang terlibat menjadi bukti besarnya minat masyarakat terhadap industri perfilman.
“Kehadiran figuran sampai lebih dari seribu orang. Banyak komunitas pemuda Surabaya juga ikut mendukung,” tutur Lilik.
Sementara itu, Produser Pelaksana Zona Merah 2026, Bagas Luhur Pribadi, mengaku terkesan dengan sambutan hangat dari Pemerintah Kota Surabaya sejak awal proses perizinan hingga pelaksanaan produksi.
“Kami merasa bukan hanya diberi izin syuting, tapi juga didukung penuh supaya produksi ini benar-benar berjalan nyaman di Surabaya,” ujar Bagas.
Ia mengatakan keterlibatan warga menjadi salah satu energi terbesar dalam produksi film tersebut. Menurutnya, suasana kolaboratif yang tercipta di Surabaya membuat proses syuting terasa lebih hidup.
“Yang paling membanggakan adalah keterlibatan warga Surabaya sendiri. Ada lebih dari seribu figuran yang ikut menjadi bagian dari film ini,” katanya.
Tak berhenti pada produksi film, tim Zona Merah 2026 juga menyiapkan program edukasi perfilman bertajuk Tamasya Cinema. Program itu akan melibatkan mahasiswa dan pelajar SMK di Surabaya untuk belajar langsung mengenai dunia produksi film.
Sebanyak 20 mahasiswa dan 20 siswa SMK akan mendapat kesempatan melihat proses kreatif industri perfilman dari dekat.
Dengan nuansa klasik Kota Lama, dukungan pemerintah daerah, dan keterlibatan ribuan warga, Zona Merah 2026 bukan sekadar proyek film biasa. Bagi Surabaya, produksi ini menjadi panggung baru untuk menunjukkan bahwa kota sejarah juga bisa tampil modern, sinematik, dan siap menjadi pusat industri kreatif nasional.
Editor: Arif Ardliyanto