Produksi Padi Jatim Januari–Juni 2026 Diprediksi Tembus 6,62 Juta Ton GKG
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa berkomitmen menjadikan Jatim sebagai lumbung pangan nasional sekaligus menjadi mesin penggerak kedaulatan pangan nasional.
"Tidak sekedar bagaimana kita memaksimalkan produksi padi dan beras di Jatim, tapi juga kita ingin menjadi bagian yang bisa membawa Indonesia bukan hanya berketahanan pangan tapi berkedaulatan pangan berkelanjutan," ucap Khofifah, Selasa (12/5/2026)..
Berdasarkan data Angka Tetap Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025, Jatim mencatat luas panen sebesar 1,84 juta hektare dengan produksi padi mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini meningkat 12,60% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 9,77 juta ton.
Sementara berdasarkan rilis BPS tanggal 4 Mei 2026, potensi produksi padi Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton GKG, atau meningkat sekitar 5,28% dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Ini artinya produktivitas pertanian Jatim tetap tumbuh positif dan resilien di tengah berbagai tantangan global dan perubahan iklim. Insya Allah Jatim tetap menjadi tumpuan bagaimana ketahanan pangan program Pak Presiden Prabowo yang bisa diwujudkan secara berkelanjutan," ungkap Khofifah.
Khofifah menekankan pentingnya Modernisasi Alat Dan Mesin Pertanian (Alsintan) di berbagai wilayah di Jatim. Hal ini juga dirasa sejalan dengan fakta bahwa Jatim memiliki jumlah petani muda terbanyak di Indonesia.
Modernisasi Alsintan menjadi bagian yang sangat penting seperti penggunaan transplanter, rotavator, drone sprayer hingga Combine Harvester.
"Saya rasa ini sangat friendly dengan anak-anak muda sehingga mereka tidak semua ke kota, tapi mereka juga menjadi bagian dari penguat sektor pertanian," kata Khofifah.
Sebagai informasi, berbagai langkah strategis telah dilakukan Pemprov Jatim guna mendorong kedaulatan pangan berkelanjutan. Diantaranya adalah melakukan percepatan tanam pada lahan-lahan yang sudah selesai panen dengan memanfaatkan benih unggul bersertifikat yang tahan kekeringan.
Kemudian mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian atau alsintan agar proses panen, olah tanah, hingga tanam kembali dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Yang ketiga adalah menyusun pola tanam adaptif berbasis teknologi dan mitigasi perubahan iklim serta keempat, memperkuat pengelolaan irigasi melalui pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pembangunan perpompaan, serta optimalisasi sumber air.
Dan upaya kelima adalah memperkuat sistem pelaporan cepat apabila terjadi bencana alam maupun serangan organisme pengganggu tanaman.
Sementara itu, Plh. Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Tin Latifah mengatakan bahwa pemerintah telah membreakdown kira-kira dalam satu tahun luasan tanah yang harus ditanam mencapai 16 juta hektar. Jatim disebutnya telah berkontribusi hingga Mei 2026 mencapai 238.000 ha dari target 1,7 juta ha seluruh Indonesia.
Editor : Arif Ardliyanto