Menanam Harapan Sehat Lewat Sebutir Telur untuk Anak-Anak Pesisir Lamongan
LAMONGAN, iNewsSurabaya.id – Pagi itu suasana Aula SDN Kemantren, Kecamatan Paciran, Lamongan, tampak berbeda. Di tengah para guru yang mengikuti pelatihan program Japfa for Kids 2026, obrolan anak-anak soal telur ceplok, telur dadar, hingga nasi hangat justru menjadi cerita yang paling mencuri perhatian.
Bagi sebagian siswa sekolah dasar di wilayah pesisir Lamongan itu, telur bukan menu yang selalu hadir setiap hari di meja makan mereka. Karena itulah, program pemberian protein hewani melalui Japfa for Kids disambut antusias oleh para siswa.
“Saya paling suka telur dadar sama ceplok,” kata siswa kelas 5 SDN Kemantren, Arfana Asyam sambil tersenyum malu saat ditemui pada Rabu (20/5/2026).
Hal serupa dirasakan siswi kelas 2 SDN Kemantren, Hafsa Thalia Qurani. Selama ini ia lebih sering makan ikan masakan ibunya dibanding telur.“Kalau telur jarang, Bunda lebih sering masak ikan,” ujarnya polos.
Sementara itu, siswa kelas 4 MIS Mu’awanah, Adibah Qotrunada, bahkan sudah membayangkan cara menikmati telur yang nanti diterimanya setiap hari. “Mau saya bikin telur ceplok terus dimakan pakai nasi hangat,” katanya lirih sambil tersenyum.
Cerita sederhana anak-anak tersebut menjadi gambaran kecil bahwa persoalan gizi masih menjadi tantangan nyata, bahkan di usia sekolah dasar. Melalui program Japfa for Kids, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mencoba menghadirkan intervensi sederhana namun berdampak besar. Yakni memastikan anak-anak mendapatkan asupan protein hewani secara rutin.
Di Kecamatan Paciran, program tersebut melibatkan delapan sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, yakni MIS Mu’awanah, MIS Mambaul Ma’Arif, MIS Muh. 07 Sidokelar, MIS Muh. 10 Tlogosadang, MIS Tarbiyatus Shibyan, SDN Kemantren, SDN Sidokelar, dan SDN Tlogosadang.
Kepala SDN Kemantren, Musri, mengatakan bantuan asupan protein tambahan sangat dibutuhkan siswa untuk menunjang pertumbuhan dan kesehatan mereka.
“Selama ini sumber protein anak-anak lebih banyak dari ikan. Kami berharap program ini bisa terus berlanjut karena sangat membantu meningkatkan kesehatan dan gizi anak,” ujarnya.
Di sekolah yang dipimpinnya, terdapat 153 siswa. Namun, program difokuskan untuk 117 siswa kelas 1 hingga kelas 5 karena siswa kelas 6 akan segera lulus.
Selain pemberian protein hewani, pihak sekolah juga mulai melakukan pendataan tinggi badan siswa sebagai bagian dari pemantauan kondisi gizi anak.
Head of Social Investment Japfa, Retno Artsanti, menjelaskan Japfa for Kids merupakan program sosial perusahaan yang bertujuan membantu menurunkan angka malagizi pada anak usia sekolah dasar.
Salah satu intervensi utamanya dilakukan melalui pemberian telur setiap hari selama enam bulan kepada siswa dengan kondisi gizi kurang maupun gizi buruk.
“Program ini dirancang agar dampaknya dapat terukur secara konsisten, termasuk melalui monitoring berkala terhadap perkembangan status gizi siswa,” ujar Retno.
Tak hanya soal makanan bergizi, program tersebut juga mencakup edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, hingga pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.
Selama 18 tahun berjalan, Japfa for Kids telah menjangkau lebih dari 201 ribu siswa di berbagai daerah Indonesia. Data perusahaan menunjukkan, pada 2025 sebanyak 62,5 persen siswa dengan kondisi gizi kurang berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi lebih baik. Di Jawa Timur sendiri, program di Kecamatan Paciran melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan sekitar 150 guru dari delapan sekolah.
Camat Paciran, Teguh Bagio, menilai kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak di daerahnya.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dari pihak swasta seperti Japfa sangat penting untuk membantu mewujudkan anak-anak Lamongan yang sehat dan cerdas,” katanya.
Inisiatif pihak swasta ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Lamongan yang telah sukses melakukan lompatan besar dalam penanganan stunting. Data menunjukkan angka stunting di Lamongan turun drastis dari 27,5 persen pada 2022 menjadi hanya 6,9 persen pada 2024.
Prestasi ini menjadikan Lamongan sebagai tujuan utama kaji tiru nasional. Baru-baru ini, Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, menerima kunjungan delegasi dari Kabupaten Banjar dan Kota Salatiga yang ingin mempelajari strategi percepatan penurunan stunting.
"Keberhasilan ini butuh kerja sama lintas sektor, termasuk peran pengusaha sebagai orang tua asuh. Kami terus melakukan mapping agar program tepat sasaran dan dievaluasi secara berkala," tegas Dirham.
Editor : Arif Ardliyanto