get app
inews
Aa Text
Read Next : Polemik Beasiswa PTS Surabaya Memanas, Mahasiswa Unesa Ini Bongkar Fakta yang Jarang Terungkap

Pakaryan, Film Mahasiswa UNESA yang Bongkar Sisi Gelap Proyek Pembangunan Curi Perhatian

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:55 WIB
header img
Film Pakaryan garapan mahasiswa Sastra Indonesia UNESA mengangkat kisah licik di balik proyek pembangunan dan tekanan hidup pekerja bawahan. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sebuah film pendek berjudul Pakaryan berhasil mencuri perhatian publik lewat cerita yang dekat dengan realitas sosial masyarakat. Tidak hanya menyuguhkan drama proyek pembangunan, film garapan mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini juga menghadirkan kritik tajam tentang kekuasaan, tekanan pekerjaan, hingga praktik licik manusia di balik proyek besar.

Film yang diadaptasi dari novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari tersebut diputar pada 21 Mei 2026 di Graha Sawunggaling UNESA. Sejak awal pemutaran, suasana ruangan terasa penuh antusias. Penonton tampak larut dalam konflik yang disajikan, terutama saat cerita mulai menyinggung sisi gelap dunia proyek dan moral manusia yang perlahan runtuh karena kepentingan.

Menariknya, salah satu pemain dalam film Pakaryan adalah Farel, alumni SMK Ketintang tahun 2026 yang sebelumnya aktif di organisasi jurnalistik sekolah. Keterlibatannya menjadi bukti bahwa dunia jurnalistik dan perfilman sama-sama memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat.


Film Pakaryan garapan mahasiswa Sastra Indonesia UNESA mengangkat kisah licik di balik proyek pembangunan dan tekanan hidup pekerja bawahan. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

Jika jurnalistik menyuarakan fakta melalui berita, maka film menghadirkan pesan lewat dialog, emosi, dan drama yang mampu menggugah perasaan penonton.

“Secara garis besar, Pakaryan menawarkan kisah sebuah proyek pembangunan besar yang berisi manusia-manusia licik yang tega mengambil kesempatan dalam kesempitan, serta pekerja bawahan yang ditekan oleh keadaan,” ujar Produser Film, Safir Ayhnundin.

Film ini tidak sekadar berbicara tentang pembangunan fisik. Salah satu kalimat yang paling membekas bagi penonton adalah, “yang paling rapuh bukanlah bangunannya, melainkan manusia di dalamnya.”

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut