Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Siswa SMK di Surabaya Terjun Langsung Produksi Siaran Olahraga Profesional
Advertisement . Scroll to see content

Krisis Geopolitik Pengaruhi Harga Plastik, Produsen Perkuat Stok Bahan Baku

Selasa, 09 Juni 2026 | 18:28 WIB
  • author Lukman Hakim
Krisis Geopolitik Pengaruhi Harga Plastik, Produsen Perkuat Stok Bahan Baku
ASPRA memperkuat buffer stock dan lindung nilai dalam menghadapi ketidakpastian global. (Foto : Lukman Hakim).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia mulai berdampak pada industri plastik nasional. 

Kenaikan harga minyak mentah hingga sempat menembus level USD120 per barel menyebabkan harga bahan baku plastik ikut terdongkrak dan berpotensi menimbulkan gangguan pasokan.

Direktur Utama PT Asia Pramulia (ASPRA), Ricky Winoto, mengatakan industri plastik menjadi salah satu sektor yang terdampak langsung karena sebagian besar bahan bakunya berasal dari turunan minyak bumi.

"Kondisi geopolitik saat ini memang berdampak. Penutupan jalur distribusi dan perang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak dari kisaran USD60 hingga sempat mencapai USD120 per barel. Karena bahan baku plastik berasal dari minyak bumi, otomatis harga bahan baku ikut naik dan di beberapa jenis terjadi kelangkaan," kata Ricky, Selasa (9/6/2026).

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ASPRA telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, di antaranya memperkuat persediaan bahan baku (buffer stock) serta memanfaatkan fasilitas lindung nilai (hedging) dari perbankan guna mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah.

"Kami melakukan buffer stock sehingga persediaan bahan baku masih aman untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Selain itu, kami juga menggunakan fasilitas lindung nilai untuk mengantisipasi pergerakan kurs," ujarnya.

Meski menghadapi tantangan global, Ricky memastikan ketersediaan bahan baku utama perusahaan masih relatif aman. Hal itu karena mayoritas produk ASPRA menggunakan bahan baku plastik jenis PET yang sebagian besar diproduksi di kawasan Asia, bukan berasal dari Timur Tengah.

"Mayoritas bahan baku kami adalah PET. Kebetulan PET banyak diproduksi di Asia, termasuk Indonesia. Jadi dari sisi pasokan masih cukup aman. Kami masih mendapatkan suplai dari produsen dalam negeri maupun impor dari Vietnam dan China," jelasnya.

Menurut Ricky, beberapa produsen seperti Indorama, Mitsubishi Chemical, dan Wankai Indonesia masih mampu memasok kebutuhan bahan baku perusahaan. Sementara untuk bahan baku lain seperti polipropilen dan polietilen, perusahaan juga memiliki alternatif pasokan dari Malaysia dan China.

Meski demikian, kenaikan harga bahan baku tetap tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, perusahaan melakukan penyesuaian harga kepada pelanggan agar operasional tetap berjalan sehat.

"Perubahan harga memang terjadi dan itu pasti kami sesuaikan kepada pelanggan. Namun dari sisi ketersediaan bahan baku, sampai saat ini masih aman untuk beberapa bulan ke depan," katanya.

Di tengah tantangan tersebut, ASPRA tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun 2026. Ricky menyebut segmen air minum dalam kemasan (AMDK) menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan perusahaan.

Menurutnya, permintaan kemasan AMDK terus meningkat seiring munculnya berbagai merek baru di pasar dan perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengandalkan air minum kemasan.

"Segmen air minum dalam kemasan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Banyak merek baru bermunculan dan ini menjadi peluang besar bagi kami sebagai produsen kemasan," ujarnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut