Impor Bahan Baku Naik 20,42 Persen, Pelaku Usaha Hadapi Tekanan Biaya
JAKARTA, iNewsSurabaya.id – Nilai impor bahan baku dan barang penolong Indonesia terus meningkat di tengah aktivitas produksi dan perdagangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor komoditas tersebut sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai USD116,70 miliar, naik 20,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan biaya bahan baku dan perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat memengaruhi harga pokok penjualan (HPP) dan margin perusahaan.
Chief Executive Officer (CEO) Mekari Suwandi Soh mengatakan, pelaku usaha memang tidak dapat mengendalikan kurs maupun kebijakan perdagangan global, tetapi dapat mempercepat proses untuk mengetahui dampaknya terhadap keuangan perusahaan.
Menurut dia, kecepatan memperoleh informasi keuangan menjadi semakin penting ketika perusahaan menghadapi perubahan biaya dan nilai tukar.
“Pemanfaatan sistem digital dan analisis berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mengolah data keuangan. Sehingga manajemen memiliki informasi yang lebih cepat untuk mengambil keputusan,” katanya, Jumat (18/9/2026).
Pengalaman tersebut terlihat pada sejumlah pelaku usaha. PT Ayam Kota Untuk Negara menggunakan sistem digital untuk mempermudah pemantauan stok dan laporan keuangan.
Sementara PT Alpine Renewables Commodities yang melakukan transaksi dalam rupiah dan dolar AS memanfaatkan fitur multi-currency dan pembukuan terintegrasi hingga memangkas waktu operasional keuangan 40 persen.
Di sektor logistik, PT Gold Shine Logistik mencatat proses closing bulanan menjadi tiga hingga lima hari lebih cepat setelah beralih dari sistem akuntansi offline ke sistem berbasis online.
Adapun PT Sinar Pahala Utama yang memiliki sembilan anak perusahaan memanfaatkan sistem terintegrasi untuk memantau profitabilitas dan HPP dari berbagai lini usaha.
Editor: Arif Ardliyanto