get app
inews
Aa Text
Read Next : Ojol Tewas Terlindas Rantis Brimob, Ponpes Denanyar Minta Dilakukan Pengusutan Hingga Tuntas!

Jelang Pemilihan Ketum PBNU, Gus Salam Sebut Mayoritas Pengurus NU Ingin Perubahan

Rabu, 10 Juni 2026 | 13:00 WIB
header img
Menjelang Muktamar NU ke-35 tahun 2026, Gus Salam mengungkap banyak pengurus PCNU dan PWNU menginginkan kepemimpinan PBNU yang lebih teduh, solid, berintegritas, dan transparan. Foto iNewsSurabaya.id/zainul

JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, dinamika internal organisasi mulai menghangat. Sejumlah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai daerah disebut mengharapkan hadirnya perubahan kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pernyataan tersebut disampaikan KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam setelah melakukan rangkaian silaturahmi ke berbagai daerah di Indonesia. Dalam kunjungannya, ia mengaku bertemu dengan banyak pengurus NU mulai dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Gus Salam, mayoritas pengurus yang ditemuinya menginginkan kepemimpinan PBNU yang mampu menghadirkan suasana organisasi yang lebih teduh, solid, berintegritas, serta menjunjung tinggi transparansi.

"Mereka merindukan kepemimpinan yang penuh keteduhan, soliditas, integritas, dan transparansi. Itu yang saya temukan dari berbagai silaturahmi selama beberapa waktu terakhir," ujar Gus Salam saat ditemui di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang, Rabu (10/6/2026).

Gus Salam menilai berbagai konflik yang terjadi di tingkat pusat telah memberikan dampak nyata terhadap jalannya organisasi di daerah. Menurutnya, sejumlah agenda organisasi di tingkat PWNU maupun PCNU mengalami hambatan akibat situasi tersebut.

Ia mengungkapkan, para pengurus di daerah menginginkan PBNU menjadi teladan dalam menjaga persatuan dan keharmonisan organisasi. Sebab, konflik yang berkepanjangan dinilai hanya menguras energi dan menghambat program-program yang seharusnya dijalankan untuk kepentingan umat.

"Konflik yang terjadi tidak produktif dan menimbulkan konsekuensi negatif. Bahkan berdampak pada terhambatnya berbagai agenda organisasi serta proses administrasi di tingkat wilayah maupun cabang," katanya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut