Band Perunggu Guncang Surabaya, 1.500 Penonton Padati Konser Dakwah Gen Z yang Tak Biasa
Setelah melalui evaluasi, lagu-lagu yang dibawakan Band Perunggu dinilai mengandung pesan-pesan positif yang sejalan dengan nilai pendidikan karakter dan keagamaan yang diterapkan di lingkungan sekolah.
"Anak-anak memang banyak yang mengidolakan Band Perunggu. Kami mempelajari lirik-lirik lagunya dan menemukan banyak pesan baik di dalamnya, termasuk pada lagu '33x' maupun lagu bertema keluarga dan ibu. Karena itu kami menilai kehadiran mereka tetap sesuai dengan nilai yang kami bangun," katanya.
Meski dikemas dalam format konser musik modern, suasana religius tetap menjadi perhatian utama penyelenggara. Panitia menyediakan fasilitas ibadah dan menerapkan pemisahan area penonton laki-laki dan perempuan menggunakan pembatas selama acara berlangsung.
Langkah tersebut merupakan bagian dari konsep dakwah kultural yang menyasar generasi muda atau yang dikenal sebagai dakwah Gen Z.
"Kami ingin menunjukkan bahwa dakwah bisa dilakukan melalui berbagai media, termasuk seni dan musik. Nilai-nilai agama tetap bisa disampaikan tanpa harus selalu melalui ceramah di atas mimbar," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMA Muhammadiyah 1 Taman, Keisya Aulia Fayyaz, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dipersiapkan secara mandiri oleh siswa selama dua hingga tiga bulan.
Mulai dari riset pemilihan bintang tamu, penyusunan konsep acara, hingga pelaksanaan teknis di lapangan dilakukan oleh para pelajar dengan pendampingan guru.
Konser tersebut berhasil menarik lebih dari 1.500 penonton. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 orang merupakan masyarakat umum yang turut hadir untuk menyaksikan penampilan Band Perunggu.
Sebelum konser utama dimulai, pengunjung terlebih dahulu disuguhkan beragam pertunjukan seni karya siswa. Mulai dari penampilan band sekolah, Hizbul Wathan, Tapak Suci, tari tradisional, hingga tari modern yang menampilkan kreativitas generasi muda.
Melihat antusiasme yang tinggi, Smamita berencana menjadikan konser dan pentas seni serupa sebagai agenda rutin setiap dua tahun sekali. Bahkan, penyelenggaraan berikutnya ditargetkan dapat digelar di area luar ruangan dengan memanfaatkan fasilitas baru yang dimiliki sekolah.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter, kreativitas, dan dakwah dapat berjalan beriringan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak muda masa kini.
Editor: Arif Ardliyanto