get app
inews
Aa Text
Read Next : Hotel Mewah di Surabaya Suguhkan Pecel Pincuk dan Spikoe Sambut Hari Jadi Kota

Fermentasi 12 Jam, Donat Ini Tawarkan Tekstur Lembut dan Mudah Dicerna

Kamis, 18 Juni 2026 | 12:47 WIB
header img
Donat dengan ragi liar menghadirkan sensasi rasa yang lebih kompleks. (Foto : ist).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Donat menjadi salah satu kudapan yang tak pernah kehilangan penggemarnya. Cita rasanya yang sederhana namun akrab di lidah membuat makanan ini tetap diminati berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Owner Wild Donut, Karin, menilai donat memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya selalu relevan di tengah beragam tren kuliner yang terus bermunculan.

"Menurut saya, donat adalah makanan klasik. Dari anak kecil sampai orang tua pasti mengenal dan pernah mencicipinya. Donat berbeda dengan roti biasa karena memiliki kesan yang membuat orang merasa senang. Donat itu makes people happy," ujar Karin, Kamis (18/6/2026).

Menurut Karin, masyarakat Surabaya hingga kini masih menyukai varian donat klasik. Tiga rasa yang paling banyak diminati adalah donat gula, donat meses cokelat, dan donat keju parut.

"Kalau bicara varian yang paling diminati, tiga rasa itu masih menjadi favorit. Donat gula, meses cokelat, dan keju parut adalah rasa klasik yang sepertinya akan selalu bertahan sepanjang masa," katanya.

Meski demikian, Wild Donut tidak menjadikan variasi topping atau rasa sebagai pembeda utama produknya. Karin menjelaskan, keunikan donat yang dibuatnya terletak pada penggunaan wild yeast atau ragi liar sebagai bahan pengembang adonan.

"Yang kami tonjolkan bukan topping atau rasanya, karena itu bisa dibuat apa saja. Yang membedakan adalah adonannya. Kami tidak menggunakan ragi komersial, melainkan wild yeast atau ragi liar," jelasnya.

Ia menerangkan, ragi liar diperoleh melalui proses fermentasi alami dari campuran tepung dan air yang menangkap mikroorganisme dari lingkungan sekitar. Kultur tersebut kemudian dirawat hingga berkembang menjadi koloni mikroorganisme yang mampu menghasilkan gas alami untuk mengembangkan adonan.

Menurut Karin, penggunaan ragi liar menghasilkan tekstur donat yang lebih lembut sekaligus memberikan cita rasa yang lebih kompleks dibandingkan donat pada umumnya. Selain itu, proses fermentasi yang lebih panjang juga membantu memecah gluten sehingga lebih mudah dicerna tubuh.

"Fermentasinya berlangsung semalaman, sekitar delapan hingga 12 jam, baru kemudian digoreng. Berbeda dengan donat biasa yang dalam dua jam sudah bisa diproses. Karena menggunakan wild yeast, semua tahap harus dikontrol dengan sangat detail, mulai suhu, kelembapan, hingga waktu fermentasi," ungkapnya.

Selain menggunakan ragi liar, Wild Donut juga menerapkan teknik adonan dengan tingkat hidrasi tinggi atau kandungan air yang lebih banyak. Teknik tersebut membuat tekstur donat menjadi lebih lembut, meski membutuhkan pengendalian suhu dan proses yang lebih presisi.

"Adonannya cukup kompleks karena menggunakan wild yeast dan fermentasi yang lebih lama. Dari proses itulah muncul rasa yang lebih kaya. Bahkan nama Wild Donut sendiri terinspirasi dari wild yeast yang kami gunakan," tambah Karin.

Wild Donut menawarkan beragam pilihan menu yang terbagi dalam beberapa kategori, mulai dari original, crispy, cream filled, hingga savory. Pada kategori original tersedia Wild Dough, Wild Glazed, dan varian cokelat dengan lapisan gula tipis yang dirancang untuk menonjolkan karakter adonan.

Sementara itu, kategori lainnya menghadirkan berbagai pilihan seperti donat isi krim, Egg Mayo sebagai varian gurih, donat meses dan keju klasik, Homer Simpson Strawberry, Burnt White Chocolate Cheesecake, hingga Crispy Cheese.

Dari seluruh menu yang tersedia, Karin menyebut Wild Glazed menjadi salah satu produk yang paling banyak mendapat apresiasi pelanggan karena mampu menampilkan karakter khas adonan hasil fermentasi ragi liar. Selain itu, Cream Filled Pistachio dan Egg Mayo juga termasuk menu favorit konsumen.

Keunikan lain Wild Donut terletak pada penggunaan labu kuning sebagai salah satu bahan adonan. Menurut Karin, bahan tersebut membantu menghasilkan tekstur yang lebih lembut tanpa menghilangkan cita rasa alami dari proses fermentasi.

"Kami juga menggunakan labu kuning dalam adonan sehingga teksturnya menjadi lebih lembut. Rasa yang kami hadirkan dibuat tetap familiar dan nyaman dinikmati semua orang, tetapi tetap memberikan pengalaman yang berbeda," ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut