Hujan Semalaman Lumpuhkan Banyuwangi, 52 Rumah Kebanjiran hingga Jalan Amblas di Srono
BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Hujan deras yang mengguyur wilayah Banyuwangi sejak Minggu (21/6/2026) malam hingga Senin (22/6/2026) dini hari memicu banjir di sejumlah kecamatan. Sedikitnya 52 rumah warga di Kecamatan Rogojampi terdampak genangan, sementara di Kecamatan Srono luapan air menyebabkan jalan amblas dan plengsengan ambrol.
Wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Lingkungan Candian, Kecamatan Rogojampi. Meluapnya sungai akibat tingginya curah hujan membuat air masuk ke kawasan permukiman warga dengan ketinggian mencapai sepaha orang dewasa.
Kondisi tersebut membuat warga panik dan berupaya menyelamatkan barang-barang berharga serta perabot rumah tangga ke tempat yang lebih aman. Meski genangan sempat merendam puluhan rumah, tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Camat Rogojampi, Satrio, mengatakan hujan berintensitas tinggi yang berlangsung selama beberapa jam membuat kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air sehingga meluap ke area permukiman.
“Data sementara terdapat sekitar 52 rumah warga yang terdampak banjir di wilayah Rogojampi. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan berat akibat kejadian ini,” ujarnya.
Menurut Satrio, kondisi genangan mulai berangsur surut pada Senin pagi. Setelah air menyusut, warga bersama petugas gabungan langsung melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dari lumpur dan material yang terbawa arus banjir.
Tidak hanya Rogojampi, banjir juga melanda Dusun Paiton dan Dusun Rayud, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono. Selain merendam sejumlah rumah warga, derasnya aliran air turut merusak infrastruktur di kawasan tersebut.
Agen Informasi Bencana BPBD Jawa Timur, Ismanto, mengungkapkan kerusakan paling serius terjadi di Dusun Rayud. Arus air yang kuat menggerus badan jalan hingga menyebabkan jalan amblas serta plengsengan di sekitar lokasi ambrol.
“Selain banjir, di Dusun Rayud terjadi jalan amblas dan plengsengan ambrol akibat tergerus arus air yang cukup deras,” katanya.
BPBD menyebut banjir yang terjadi dipicu oleh kombinasi beberapa faktor. Selain tingginya curah hujan, kondisi drainase yang terbatas, gorong-gorong berkapasitas kecil, serta pendangkalan sungai turut memperparah luapan air ke kawasan permukiman.
“Drainase yang terbatas, gorong-gorong yang sempit, serta kondisi sungai yang dangkal membuat air mudah meluap ke permukiman saat hujan deras,” jelas Ismanto.
Hingga kini, petugas BPBD bersama pemerintah desa dan warga masih melakukan pendataan kerusakan serta membersihkan material sisa banjir. Masyarakat juga diimbau tetap waspada mengingat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Banyuwangi.
Editor : Arif Ardliyanto