Foufo, Film Sci-Fi Bernuansa Madura yang Dibalut Kisah Bakti Anak kepada Ibu
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sutradara sekaligus kreator film Foufo, Bayu Skak, mengungkapkan proses panjang di balik produksi film komedi fiksi ilmiah (sci-fi) bernuansa budaya Madura tersebut. Film hasil kolaborasi Skak Studios dan SinemArt itu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 9 Juli 2026.
Film ini dibintangi Tretan Muslim, Bayu Skak, Benidictus Siregar, Hari Otong, Fuad Sasmita, Anggun Dwi Lestari, Siti Kamariyah, Mieke Shahir, Sangat Mahendra, Moh Rifqi, Ina Pogang, Kiano Shakeel, Habib Ja'far, serta Ade Kurniawan yang mengisi suara karakter alien bernama Foufo.
Bayu mengatakan sebagian besar pemain yang terlibat dalam film ini merupakan wajah baru yang belum memiliki pengalaman bermain film. Karena itu, tim produksi menggelar karantina dan pelatihan intensif sebelum proses syuting dimulai.
"Sebelum syuting kami mengadakan karantina karena kebanyakan pemain baru pertama kali bermain film. Kami menyewa apartemen di Jakarta dan seluruh pemain tinggal bersama untuk reading serta membangun chemistry. Total proses persiapannya sekitar dua bulan," kata Bayu saat ditemui di Surabaya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Bayu, tantangan terbesar dalam proses produksi adalah membimbing para pemain yang sebagian besar berasal dari luar dunia perfilman. Namun, hal itu dapat diatasi karena seluruh pemain memiliki semangat belajar yang tinggi.
"Kesulitan pasti ada, tetapi semuanya bisa dilewati dengan baik. Mereka punya keberanian, kemauan belajar, dan potensi yang besar sehingga prosesnya menjadi lebih mudah," ujarnya.
Bayu mengungkapkan Surabaya menjadi kota yang sangat spesial dalam produksi Foufo. Selain menjadi lokasi utama syuting, proses casting juga digelar di Kota Pahlawan dan diikuti sekitar 2.500 peserta.
Menurutnya, tingginya jumlah peserta menunjukkan besarnya antusiasme talenta lokal ketika kesempatan bermain film dibuka lebih dekat dengan daerah mereka.
"Angka itu membuktikan bahwa ketika kesempatan bermain film dihadirkan lebih dekat, antusiasme talenta lokal sangat besar. Selama ini banyak yang merasa kesempatan hanya ada di Jakarta," katanya.
Seluruh peserta menjalani proses audisi secara langsung. Dari hasil seleksi tersebut, sekitar 90 persen pemain yang terlibat merupakan talenta lokal Surabaya.
"Kami benar-benar melakukan casting seperti audisi. Dari ribuan peserta itu, sebagian besar yang terpilih merupakan talenta lokal Surabaya," ujarnya.
Film Foufo mengambil latar utama kawasan Surabaya Utara. Beberapa adegan direkam di wilayah Kenjeran dan Bulak Banteng, serta sejumlah lokasi di Kabupaten Bangkalan, Madura.
Bayu menjelaskan pemilihan Surabaya sebagai latar cerita tidak lepas dari keterkaitan Foufo dengan semesta cerita (universe) yang sebelumnya telah dibangun melalui karya-karya Skak Studios.
"Film ini masih berada dalam universe yang sama dengan karya kami sebelumnya. Beberapa karakter lama juga muncul kembali sehingga menjadi jembatan antarkisah. Karena itu Surabaya dipilih sebagai pusat cerita sekaligus lokasi utama syuting," jelasnya.
Meski mengusung genre komedi sci-fi dengan kehadiran karakter alien bernama Foufo, Bayu menegaskan inti cerita film ini berfokus pada hubungan keluarga.
Film tersebut mengisahkan seorang pemuda bernama Muslim, yang diperankan oleh Tretan Muslim. Tokoh ini bercita-cita memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci, namun terbentur keterbatasan ekonomi.
"Kalau dilihat sekilas memang ada unsur alien yang crash landing dan bertemu warga setempat. Tetapi inti ceritanya adalah tentang seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya dan ingin memberangkatkannya haji," kata Bayu.
Dalam perjalanannya, kehidupan Muslim yang sederhana berubah setelah kemunculan Foufo. Berbagai peristiwa tak terduga kemudian mewarnai perjuangannya mewujudkan impian tersebut.
"Muslim ini merasa tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Dia hanya ingin suatu hari bisa membahagiakan ibunya. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, tiba-tiba muncul alien dan mengubah banyak hal dalam hidupnya," ujarnya.
Sementara itu, Tretan Muslim mengaku merasakan campuran perasaan senang sekaligus gugup saat dipercaya menjadi pemeran utama dalam film tersebut. Pasalnya, selama ini dirinya lebih dikenal lewat konten komedi dan dakwah yang bernuansa jenaka.
"Rasanya senang, tetapi juga deg-degan karena bebannya cukup besar. Ini salah satu peran utama pertama saya di film," ujar Tretan Muslim.
Editor : Arif Ardliyanto