get app
inews
Aa Text
Read Next : Waspadai Lonjakan Kasus COVID-19, Mutasi Virus dan Efektivitas Vaksin Jadi Sorotan

Anak Terlihat Sehat, Perlukah Divaksin? Ini Penjelasan Dokter yang Wajib Diketahui Orang Tua

Selasa, 30 Juni 2026 | 11:08 WIB
header img
Dokter RS Premier Surabaya menjelaskan mengapa vaksin tetap diperlukan meski anak sehat. Simak manfaat imunisasi, efek samping, dan penyakit yang dapat dicegah. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Ia menambahkan, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa imunisasi mampu menurunkan risiko penyakit berat, komplikasi serius, hingga kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Meski kasus penyakit seperti campak, polio, maupun batuk rejan kini semakin jarang ditemukan, bukan berarti penyakit tersebut telah hilang sepenuhnya.

Dr. Deddy mengingatkan, penyakit-penyakit tersebut masih berpotensi muncul kembali apabila cakupan imunisasi masyarakat menurun.

Beberapa penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi antara lain Hepatitis B, Tuberkulosis (TBC), Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Campak, Rubella, Pneumonia, Meningitis, Ensefalitis, Influenza, Rotavirus penyebab diare berat, Gondongan (Mumps), Cacar Air, Hepatitis A, Tifus, hingga Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD).

Sebagian penyakit tersebut bahkan dapat menyebabkan kecacatan permanen, gangguan tumbuh kembang, hingga mengancam keselamatan jiwa anak apabila tidak dicegah sejak dini.

Selain melindungi individu, imunisasi juga berperan membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Anak yang telah mendapatkan imunisasi lengkap turut membantu melindungi bayi yang belum cukup usia menerima vaksin, lansia, maupun orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Semakin tinggi cakupan vaksinasi di masyarakat, semakin kecil pula peluang penyebaran penyakit menular.

Tak sedikit orang tua yang khawatir ketika anak mengalami demam ringan atau kemerahan setelah imunisasi. Namun menurut dr. Deddy, kondisi tersebut merupakan reaksi normal yang menandakan sistem kekebalan tubuh sedang bekerja membentuk perlindungan.

"Masyarakat tidak perlu khawatir apabila anak mengalami demam ringan, kemerahan, atau nyeri di area suntikan setelah imunisasi. Reaksi tersebut umumnya hanya berlangsung satu hingga dua hari dan dapat ditangani sesuai anjuran dokter," katanya.

Sebaliknya, risiko yang dihadapi anak apabila tidak memperoleh vaksin jauh lebih besar dibandingkan efek samping ringan setelah imunisasi.

Dr. Deddy juga mengingatkan orang tua agar tidak menunda jadwal vaksin hanya karena anak terlihat sehat atau khawatir terhadap efek samping.

Setiap jenis vaksin memiliki waktu pemberian yang telah disusun agar menghasilkan perlindungan optimal. Penundaan imunisasi justru membuat anak lebih lama berada dalam kondisi rentan terhadap berbagai penyakit infeksi.

Bagi anak yang sempat melewatkan jadwal imunisasi, orang tua tidak perlu panik. Dokter dapat menyusun program imunisasi kejar agar perlindungan anak tetap lengkap sesuai usianya.

RS Premier Surabaya sendiri menyediakan layanan vaksinasi anak sesuai rekomendasi jadwal imunisasi nasional. Selain itu, orang tua juga dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mengetahui jenis vaksin yang diperlukan maupun menyusun jadwal imunisasi kejar.

"Setiap vaksin yang diberikan adalah langkah kecil yang membawa manfaat besar bagi masa depan anak. Jangan menunggu sampai anak sakit untuk mulai melindunginya. Lengkapi imunisasi sesuai jadwal dan konsultasikan dengan dokter spesialis anak agar si kecil mendapatkan perlindungan yang optimal. Di RS Premier Surabaya, kami siap mendampingi orang tua melalui layanan konsultasi dan vaksinasi yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak," tutup dr. Deddy Iskandar, Sp.A.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut