Jalan Karet Tempo Dulu Jadi Inspirasi Pameran Seni di Surabaya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Jejak sejarah Kota Surabaya bertemu dengan semangat kolaborasi seni dan desain dalam pameran "Imaji Artscape" yang digelar di Galeri Design Hub, Surabaya.
Pameran ini menghadirkan karya-karya yang menghubungkan memori kolektif kota dengan ekosistem desain dan industri kreatif masa kini.
Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah lukisan "Jalan Karet Tempo Dulu" karya arsitek sekaligus dosen Universitas Ciputra, Christian Ticualo.
Melalui karya tersebut, Christian mengangkat kawasan Jalan Karet atau Chinese Voorstraat, yang pada masa kolonial dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting di Surabaya.
Menurut Christian, sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan fisik, tetapi juga oleh ingatan dan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, proses penciptaan lukisan tersebut diawali dengan riset mendalam terhadap berbagai arsip dan dokumentasi sejarah.
"Proses melukisnya mungkin hanya beberapa hari hingga satu minggu, tetapi analisisnya memakan waktu cukup lama. Saya mengumpulkan banyak foto kuno, lalu merekonstruksi suasana kota berdasarkan berbagai referensi. Jadi bukan hanya mengambil satu foto lalu dilukis," ujar Christian, Sabtu (4/7/2026).
Ia menjelaskan, berbagai aspek diperhatikan secara detail, mulai dari bentuk bangunan, pakaian masyarakat, aktivitas perdagangan, hingga kendaraan yang digunakan pada masa itu.
"Ibarat membuat film, kami menganalisis kostum, bangunan, dan cerita yang ada di balik suasana kota pada zamannya," katanya.
Melalui karya tersebut, Christian berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin menghargai warisan sejarah yang dimiliki Surabaya. Menurutnya, bangunan dan kawasan bersejarah yang terawat dapat menjadi aset penting dalam memperkuat identitas kota sekaligus mendukung sektor pariwisata.
"Masa lalu jangan dilupakan karena masa lalu membentuk hari ini dan masa depan. Jika dirawat dan direstorasi dengan baik, warisan sejarah bisa menjadi salah satu kekuatan utama bagi perkembangan dan pariwisata Kota Surabaya," ujarnya.
Sementara itu, kurator pameran Louis Lie menghadirkan konsep berbeda melalui Galeri Design Hub. Ia merancang ruang tersebut sebagai titik temu antara seni rupa, arsitektur, desain interior, dan industri material bangunan.
Menurut Louis, material bangunan tidak hanya memiliki fungsi teknis, tetapi juga nilai estetika yang dapat diapresiasi sebagai bagian dari proses kreatif.
"Kalau hanya menampilkan produk material bangunan, tentu akan sama dengan showroom pada umumnya. Karena itu kami menggabungkan seni dengan berbagai elemen desain agar tercipta ruang kolaborasi yang lebih hidup," kata Louis.
Ia menambahkan, Galeri Design Hub juga membuka ruang bagi para seniman untuk memamerkan karya tanpa dikenakan biaya sewa maupun komisi penjualan. Melalui komunitas kreatif seperti Urban Sketch dan berbagai jejaring arsitek serta desainer, galeri ini diharapkan menjadi ruang komunal yang mendorong lahirnya kolaborasi lintas disiplin.
Dalam pameran bertajuk "Layer Ruang: Doeloe, Doa, Dunia", pengunjung diajak menikmati perjalanan visual melalui tiga tema utama.
Zona "Doeloe" menghadirkan romantisme Surabaya tempo dulu melalui lanskap ikonik seperti Jembatan Merah, Pelabuhan Kalimas, dan bangunan-bangunan kolonial yang menjadi bagian dari sejarah kota.
Editor : Arif Ardliyanto