Benjolan Tiroid Tak Selalu Harus Dioperasi, Ini Penjelasan Dokter
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Penanganan nodul tiroid terus berkembang. Berbagai metode terapi modern kini tersedia, termasuk tindakan tanpa operasi.
Masyarakat diimbau tidak mengabaikan benjolan di leher atau gondok. Benjolan tersebut tidak akan mengecil dengan sendirinya dan perlu diperiksa sedini mungkin.
Pesan itu disampaikan dalam Cinematic Thyroid Symposium yang digelar Perhimpunan Bedah Kepala Leher Indonesia (PEBKLI) bersama Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Surabaya dan RSUD Dr. Soetomo di XXI Ciputra World Surabaya, Minggu (19/7/2026).
Simposium ini menjadi yang pertama di Indonesia yang menggabungkan seminar ilmiah, tayangan sinematik, dan debat ilmiah di dalam ruang bioskop. Konsep tersebut dirancang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif sekaligus memperkuat pengambilan keputusan klinis berbasis bukti ilmiah.
Chairman kegiatan, dr. Nina Irawati, Sp.B(Onk) KL, mengatakan pemilihan bioskop memiliki makna bahwa setiap pasien memiliki perjalanan penyakit yang berbeda dan membutuhkan keputusan terapi yang tepat.
"Setiap pasien punya cerita. Tugas dokter adalah menentukan terapi terbaik bagi pasien yang tepat pada waktu yang tepat, berdasarkan bukti ilmiah, bukan sekadar preferensi," ujarnya.
Menurut dr. Nina, tidak semua nodul tiroid harus dioperasi. Sebagian kasus cukup dipantau secara berkala. Sementara itu, pasien tertentu dapat menjalani thermal ablation. Yakni, terapi menggunakan energi panas untuk menghancurkan jaringan nodul tanpa pembedahan.
Selain itu, kini juga tersedia terapi sistemik bagi pasien kanker tiroid stadium lanjut yang tidak lagi memberikan respons terhadap terapi radioaktif.
"Jangan menunggu benjolan membesar. Benjolan di gondok tidak akan mengecil sendiri. Semakin dini diperiksa, pilihan terapinya semakin banyak dan penanganannya lebih mudah," katanya.
Ia menambahkan, tantangan di Indonesia masih cukup besar. Banyak pasien datang saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut atau mengalami kekambuhan berulang. Akibatnya, penanganannya menjadi lebih kompleks.
Simposium tersebut juga membahas pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam penanganan penyakit tiroid. Penanganan melibatkan dokter bedah, THT, endokrinologi, kedokteran nuklir, patologi anatomi, hingga onkologi.
Salah satu narasumber, Prof. Dr. dr. Achmad C. Romdhoni, Sp.THTBKL, Subsp.Onk(K), menyoroti pentingnya menjaga kualitas suara pasien setelah operasi pengangkatan kelenjar tiroid (tiroidektomi).
Menurutnya, suara serak pascaoperasi tidak selalu disebabkan cedera saraf. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi proses intubasi, penggunaan alat bedah, lamanya operasi, maupun penyakit penyerta.
"Suara serak setelah operasi tidak selalu berarti kerusakan permanen. Sekitar 80 persen kasus dapat pulih spontan dalam enam bulan. Risiko gangguan permanen hanya sekitar 1 hingga 3 persen," ujarnya.
Prof. Achmad menyarankan evaluasi fungsi suara dilakukan sebelum dan sesudah operasi. Langkah itu penting untuk mendeteksi perubahan sejak dini dan menentukan kebutuhan terapi suara.
Editor : Arif Ardliyanto