Desil Naik Drastis, Ribuan Warga Surabaya Ajukan Protes, DPRD Soroti Akurasi Data
SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Perubahan data desil membuat sebagian warga Surabaya mempertanyakan kembali peluang mereka mendapatkan bantuan sosial. Warga yang sebelumnya tercatat sebagai kelompok miskin dan prasejahtera mendadak masuk kategori desil lebih tinggi, sehingga tidak lagi memenuhi sejumlah kriteria penerima bantuan.
Persoalan data desil di Surabaya tersebut menjadi perhatian Komisi D DPRD Kota Surabaya. Dewan meminta pemerintah tidak menjadikan angka desil sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan kondisi ekonomi masyarakat.
Sorotan itu disampaikan dalam hearing Komisi D DPRD Surabaya bersama Dinas Sosial Kota Surabaya dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya di Ruang Rapat DPRD Surabaya.
Pertemuan tersebut digelar setelah banyak warga menyampaikan keluhan mengenai perubahan kategori desil. Sejumlah warga mengaku mengalami kenaikan desil cukup drastis, meski kondisi ekonomi keluarga mereka dianggap tidak mengalami perubahan berarti.
Kepala BPS Kota Surabaya Arif Chandrasetiawan menjelaskan, data yang digunakan untuk pemetaan tersebut bersumber dari Data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE).
Data tersebut dihimpun melalui kerja sama Pemkot Surabaya dan BPS dengan memanfaatkan berbagai sumber data lintas kementerian, termasuk BPJS dan BKKBN.
Arif mengatakan, penetapan kategori desil dilakukan oleh BPS Pusat berdasarkan ketentuan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2025.
"Penentuan desil dilakukan oleh BPS Pusat sesuai Inpres Nomor 4 Tahun 2025. Ada 39 variabel indikator yang dipakai, mulai dari aset, pendidikan, hingga kondisi rumah," jelas Arif.
Editor : Arif Ardliyanto