Pemprov Jatim Siapkan Mitigasi Soal Ancaman PHK 4.400 Pekerja
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) memberikan perhatian serius terhadap ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membayangi sekitar 4.400 pekerja. Ancaman PHK ini akibat akibat dinamika ekonomi global dan persoalan internal sejumlah perusahaan.
Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, mengonfirmasi bahwa data 4.400 pekerja terancam PHK tersebut merupakan hasil kajian dan pemetaan langsung dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jatim sebagai langkah awal penyusunan langkah mitigasi.
"Angka 4.400 itu resmi dari hasil kajian dan pemaparan Kadisnaker. Rinciannya jelas, ada yang 2.500 pekerja dari satu perusahaan, 1.000 dari tempat lain, serta beberapa sektor lainnya masing-masing sekitar 300 pekerja. Karena datanya valid dari Disnaker, Pemprov bisa segera menyusun langkah mitigasinya," ujar Emil usai menghadiri sebuah acara di Kantor Dinas Pendidikan Jatim di Jalan Genteng Kali, Surabaya, Jumat (24/7/2026).
Salah satu sorotan utama dalam ancaman PHK ini melibatkan penutupan pabrik PT Pakerin akibat dinamika dan konflik internal keluarga pemilik modal. Emil menegaskan bahwa Pemprov Jatim tidak memiliki kewenangan untuk mengambil alih manajemen perusahaan swasta murni, namun pemerintah akan terus mengejar pemenuhan hak-hak para buruh.
"Ini kan perusahaan swasta murni, di mana pemiliknya memutuskan tidak melanjutkan usaha. Pemprov tidak bisa serta-merta mengambil alih (step in). Namun, yang kita kejar dan kawal ketat adalah kewajiban pengusaha terhadap para pekerja. Hak-hak buruh tidak boleh diabaikan," tegasnya.
Terkait isu yang beredar mengenai dua pabrik sektor otomotif di Jatim yang terancam tutup akibat penurunan pasar ekspor global, Emil menyebut kondisinya masih dalam pemantauan. Menurutnya, penyesuaian yang terjadi lebih pada pengurangan volume orderan (order adjustment), bukan penutupan operasional secara total.
Meski diterpa isu PHK di sejumlah perusahaan, Emil optimistis bahwa kondisi perekonomian Jatim secara makro masih berada dalam tren yang sangat kuat. Misalnya di sektor manufaktur.
“Namun secara mikro, jika ada satu pabrik bermasalah yang berdampak pada ribuan tenaga kerja, tentu proses transisinya tidak mudah. Karena itu fokus utama kita saat ini adalah melindungi para pegawai," pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto