get app
inews
Aa Text
Read Next : Jatim Dorong Kendaraan Rendah Emisi, Teknologi Dual Mode Jadi Alternatif Baru

Harga Komponen Global Melonjak, Banderol Elektronik Ritel Ikut Terkerek

Minggu, 12 Juli 2026 | 07:25 WIB
header img
Meski harga naik, penjualan elektronik masih tumbuh positif. (Foto : Lukman Hakim).

​SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Industri elektronik di pasar domestik tengah menghadapi tantangan berat menyusul tren kenaikan harga komponen global, ledakan teknologi Artificial Intelligence (AI), serta dinamika ekonomi makro. 

Situasi ini memaksa para produsen dan ritel untuk melakukan penyesuaian harga jual demi mengimbangi lonjakan biaya produksi dan modal manufaktur.

​Demam infrastruktur AI di tingkat global memicu aksi borong chip memori (DRAM/NAND) untuk kebutuhan data center. Dampaknya, harga memori dunia terkerek naik dan berimbas langsung pada produk hilir konsumen. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS turut mempertegas tekanan pada biaya produksi.

​Merespons kondisi tersebut, PT LG Electronics Indonesia melakukan penyesuaian harga produk elektroniknya secara terukur. Langkah ini diambil bertahap dengan tetap memprioritaskan kemampuan daya beli masyarakat.

​Branch Manager Surabaya PT LG Electronics Indonesia, Iwan Sutanto, menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga yang diambil perusahaan masih berada dalam batas yang sangat wajar.

​"Secara keseluruhan (overall), ada penyesuaian harga sekitar 3 sampai 5 persen. Kenaikan ini kami rasa masih bisa diserap (absorb) oleh masyarakat Indonesia," ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

​Iwan merinci bahwa pemicu utama kenaikan harga pada lini produk televisi berbeda dengan produk perlengkapan rumah tangga (home appliances). Khusus untuk perangkat TV, kenaikan murni disebabkan oleh melonjaknya harga memori di pasar internasional yang tersedot oleh industri berbasis AI. 

Sementara untuk AC dan mesin cuci, penyesuaian harga dipicu oleh kenaikan harga bahan baku biji plastik yang dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia serta penguatan dolar AS.

​Meski begitu, Iwan menegaskan dampak kenaikan biaya produksi pada kategori produk AC dapat diredam. Hal ini dikarenakan LG telah melakukan lokalisasi produksi di dalam negeri sehingga Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dimiliki sudah cukup tinggi.

​Guna menyiasati daya beli konsumen, LG menyiapkan strategi solusi pembiayaan. "Kita bekerja sama dengan perusahaan finance atau lembaga keuangan untuk memfasilitasi program kredit. Langkah ini diharapkan dapat mempermudah customer yang ingin memiliki produk elektronik," ungkapnya.

​Sementara itu, Head Operation and Sales Hartono Elektronik Surabaya, Andria Listiawan, mengonfirmasi bahwa aktivitas pasar ritel elektronik di Surabaya sebenarnya masih menunjukkan tren yang cukup positif.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut