Kiai Jombang Beberkan Alasan Ketua PBNU Sebaiknya dari Keturunan Pendiri NU, Gus Irfan Jadi Sorotan
JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Pengasuh Pesantren Attahzib Jombang, KH Ahmad Masruh, menyampaikan harapannya agar forum tertinggi organisasi tersebut mampu melahirkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas, tetapi juga komitmen kuat menjaga marwah NU di tengah tantangan zaman.
Secara pribadi, Kiai Masruh berharap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang berasal dari Jombang dan merupakan dzurriyah atau keturunan para pendiri NU. Namun, ia menegaskan bahwa faktor keturunan bukanlah syarat mutlak, melainkan nilai tambah yang dinilai dapat memperkuat rasa tanggung jawab terhadap organisasi.
"Kalau harapan pribadi saya, andaikan yang terpilih berasal dari Jombang dan merupakan keturunan para pendiri NU tentu akan sangat membanggakan. Tetapi itu bukan keharusan," kata Kiai Masruh.
Menurutnya, sejumlah nama yang kini masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU memiliki rekam jejak yang baik. Mereka di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), cucu KH Bisri Syansuri, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta Menteri Haji dan Umrah RI KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan), yang merupakan keturunan KH Hasyim Asy'ari.
Kiai Masruh menilai para dzurriyah pendiri NU umumnya memiliki ikatan emosional yang lebih kuat terhadap organisasi karena mewarisi amanah perjuangan para pendahulu.
"Bukan berarti harus dzurriyah. Tidak harus. Tetapi biasanya keturunan pendiri memiliki rasa tanggung jawab lebih karena merasa memiliki kewajiban moral untuk menjaga dan mengembangkan organisasi yang didirikan para leluhurnya," ujar putra pertama almarhum KH Ihsan Mahin tersebut.
Soroti Pengalaman Gus Irfan di Pemerintahan
Di antara nama-nama yang beredar, Kiai Masruh secara khusus menyoroti sosok Gus Irfan. Menurutnya, pengalaman memimpin di pemerintahan menjadi modal penting untuk membawa NU menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Ia menilai keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini menjadi salah satu indikator kapasitas kepemimpinan Gus Irfan.
"Gus Irfan memiliki pengalaman yang luas. Beliau juga keturunan pendiri NU dan saat ini dipercaya menjadi Menteri Haji. Itu menunjukkan kapasitas dan kepercayaan yang diberikan negara kepada beliau. Saya bertemu dengan beberapa jemaah haji yang mengatakan bahwa pelaksanaan haji tahun ini berjalan baik dan nyaman. Itu tentu menjadi prestasi yang patut diapresiasi," katanya.
Meski demikian, Kiai Masruh kembali menegaskan bahwa siapa pun berhak memimpin PBNU selama memiliki kemampuan, integritas, dan mendapat mandat dari para muktamirin.
"Saya yakin para muktamirin dan para pemilih itu orang-orang baik dan orang-orang yang memiliki pengetahuan. Mereka tentu bisa menentukan siapa yang paling tepat memimpin NU ke depan," ujarnya.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang. Forum lima tahunan tersebut diharapkan tidak hanya memilih ketua umum baru, tetapi juga menghasilkan keputusan strategis yang memperkuat peran NU di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, hingga kebangsaan.
Menurut Kiai Masruh, dinamika masyarakat yang terus berkembang menuntut NU mampu menghadirkan kebijakan yang adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai perjuangan para pendiri organisasi.
"Semoga Muktamar berjalan baik, aman, tertib, dan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang membawa kemaslahatan bagi warga Nahdliyin. Harapannya NU semakin maju, semakin kuat, semakin dipercaya masyarakat, dan membawa keberkahan bagi umat," tuturnya.
Ia menutup dengan doa agar Muktamar ke-35 NU menghasilkan pemimpin terbaik yang mampu membawa organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut semakin maju dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.
"Saya hanya bisa mendoakan. Semoga terpilih pemimpin yang mampu membawa NU semakin baik, semakin maju, dan semakin dipercaya oleh masyarakat," pungkasnya.
Selain sejumlah nama dari kalangan dzurriyah pendiri NU, bursa calon Ketua Umum PBNU juga diramaikan petahana Yahya Cholil Staquf, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfan Mustofa, Gus Yusuf Khudhori dari Pesantren Tegalrejo Magelang, serta sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama lainnya.
Editor: Arif Ardliyanto