Film Bapakmu Kiper Tayang di Bioskop, Angkat Serunya Sepak Bola Tarkam dan Kisah Haru Ayah-Anak
Harapan Dino mulai terbuka setelah bergabung dengan tim peserta Tarkam Super Cup. Namun, di balik ambisinya mengejar mimpi, ia menyimpan luka karena merasa sang ayah tak pernah benar-benar hadir dalam perjalanan hidupnya.
Konflik semakin memuncak ketika tim Dino menghadapi berbagai kendala menjelang pertandingan penting. Situasi itu menjadi kesempatan bagi Warto untuk kembali ke dunia tarkam demi membantu tim sang anak sekaligus memperbaiki hubungan yang selama ini renggang.
Berbeda dari film sepak bola yang identik dengan stadion megah dan kompetisi elite, Bapakmu Kiper justru mengangkat kehidupan sepak bola kampung yang begitu lekat dengan masyarakat Indonesia.
Film ini menampilkan berbagai sisi khas tarkam, mulai dari lapangan sederhana, antusiasme warga yang memadati pinggir lapangan, komentar suporter yang ceplas-ceplos, hingga pertandingan penuh adu fisik dan tensi tinggi.
Konsultan film sekaligus Agen Tarkam, Pangestu Agung, mengatakan bahwa kompetisi antar kampung telah menjadi budaya yang hidup di hampir seluruh daerah di Indonesia.
"Tarkam ini sekarang udah budaya lah di Indonesia itu. Pasti semua kampung ada kompetisi tarkam," ujarnya, dikutip dari kanal YouTube @radityadika.
Menurut Agung, turnamen tarkam bukan hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Ramainya penonton membuka peluang usaha bagi pedagang makanan, minuman, hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi pertandingan.
"Kalau tarkam itu benar-benar penonton full. Tarkam itu bukan hanya sekadar kompetisi, tapi membantu UKM di desa itu untuk berjalan juga," katanya.
Ia juga menilai karakter pertandingan tarkam jauh berbeda dibanding kompetisi profesional. Lapangan yang tidak selalu ideal membuat pemain dituntut tampil lebih ngotot dan mengandalkan kekuatan fisik.
"Kalau tarkam itu main bolanya di lapangan yang kebanyakan jelek. Nggak kayak kompetisi profesional yang lapangannya bagus. Kalau mau menang ya harus benar-benar main ngotot," ungkap Agung.
Fedi Nuril mengaku awalnya hanya mengenal tarkam sebagai pertandingan yang identik dengan permainan keras dan minim aturan. Namun, pandangannya berubah setelah menjalani proses syuting dan berdiskusi langsung dengan Pangestu Agung yang terlibat sebagai konsultan film.
"Awalnya saya tahunya tarkam itu identik dengan tidak ada aturan. Makin banyak tahu dan paham begitu ketemu Agen Agung di film Bapakmu Kiper sebagai konsultan," ujar Fedi.
Melalui Bapakmu Kiper, penonton tidak hanya disuguhi pertandingan sepak bola yang seru, tetapi juga kisah emosional tentang keluarga, kesempatan kedua, serta semangat masyarakat kampung yang menjadikan sepak bola sebagai ruang kebersamaan dan harapan.
Penulis: Nikmatul Karomah (Mahasiswa Magang Unesa)
Editor : Arif Ardliyanto