3 Bocah Banyuwangi Hilang Misterius Saat Cari Ikan, Ditemukan Selamat di Semak dan Atas Pohon Mahoni
BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Tiga bocah asal Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono, Banyuwangi, sempat menghilang secara misterius saat mencari ikan di sungai pada Rabu (5/8/2026). Setelah dilakukan pencarian selama beberapa jam, ketiganya akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat meski lemas. Peristiwa tersebut menghebohkan warga karena memunculkan berbagai dugaan yang berkembang di masyarakat.
Ketiga bocah tersebut berinisial I (8), A (10), dan E (10). Mereka berpamitan kepada keluarga sekitar pukul 13.00 WIB untuk bermain sekaligus mencari ikan di sungai yang berada tidak jauh dari permukiman.
Namun hingga sore hari, ketiganya tak kunjung pulang. Kekhawatiran keluarga memicu pencarian yang melibatkan warga sekitar. Saat menyisir lokasi, warga hanya menemukan tiga sepeda milik anak-anak itu masih terparkir di tepi sungai, sedangkan keberadaan mereka sama sekali tidak diketahui.
Pencarian kemudian diperluas ke area sungai, kebun, semak belukar, hingga pepohonan. Di tengah upaya tersebut, sebagian warga juga melakukan ikhtiar sesuai tradisi yang telah lama dipercaya di lingkungan setempat.
Menurut Imam, warga membunyikan berbagai peralatan rumah tangga dan alat pertanian sebagai bagian dari kepercayaan turun-temurun.
"Malam itu warga membawa panci, wajan, cangkul, dan berbagai peralatan lainnya untuk dibunyikan agar ketiga anak itu dilepas oleh makhluk halus atau wewegombel," ujar Imam.
Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 21.00 WIB, terdengar suara teriakan dari balik semak-semak. Warga yang mendatangi sumber suara berhasil menemukan satu anak dalam kondisi selamat.
"Sekitar pukul 21.00 WIB terdengar teriakan dari semak-semak. Setelah didatangi, satu anak berhasil ditemukan," katanya.
Tak lama berselang, dua bocah lainnya ditemukan berada di atas pohon mahoni dengan ketinggian sekitar 10 meter, sekitar lima meter dari lokasi ditemukannya anak pertama.
Ketiganya dievakuasi dalam keadaan lemas, tetapi tidak mengalami luka serius. Mereka masih bisa diajak berkomunikasi meski sempat berbicara terbata-bata akibat kelelahan.
Imam mengungkapkan, peristiwa serupa menurut cerita warga bukan kali pertama terjadi di kawasan tersebut. Ia menyebut sudah beberapa kali ada anak yang dilaporkan hilang dan baru ditemukan saat malam hari.
"Menurut cerita dan pengalaman warga, kejadian seperti ini sudah sekitar tiga kali. Bahkan salah satu anak yang ditemukan malam itu disebut sudah tiga kali mengalami peristiwa serupa," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa membunyikan peralatan rumah tangga merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat setempat saat melakukan pencarian. Meski demikian, keyakinan tersebut merupakan tradisi yang hidup di tengah warga dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Proses pencarian tetap dilakukan secara menyeluruh dengan menyisir seluruh area yang diduga menjadi lokasi keberadaan anak-anak.
Sementara itu, Kepala Dusun Pekiringan, Sudaryono, mengaku sempat panik ketika putranya tidak kunjung pulang hingga sore.
"Kami benar-benar bingung dan gelisah. Sejak siang kami bersama warga mencari ke sungai, kebun, sampai semak-semak, tetapi anak-anak tidak ditemukan," katanya.
Sudaryono mengaku heran karena lokasi tempat ditemukannya ketiga bocah sebenarnya telah beberapa kali diperiksa saat pencarian berlangsung.
"Kalau memang sejak awal ada di situ, seharusnya mereka bisa berteriak meminta tolong. Kami juga sudah menyisir lokasi itu berkali-kali, tapi tidak melihat maupun mendengar apa pun," ujarnya.
Keheranannya bertambah setelah mendengar cerita sang anak usai ditemukan. Menurut pengakuan putranya, selama menghilang ia merasa hanya sedang bermain tanpa menyadari waktu telah berlalu hingga malam.
"Anak saya bilang seperti sedang bermain layang-layang terus-menerus. Dia tidak merasa waktu berjalan sampai malam dan tidak ingat ada orang yang mengajak bermain," tutur Sudaryono.
Editor : Arif Ardliyanto