Bisnis Emas Mulai Melambat, Anehnya Kinerja BUMN Gadai di Jatim Ini Justru Tembus Rp16,7 Triliun
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kinerja bisnis emas Pegadaian di Jawa Timur menunjukkan hasil positif sepanjang semester pertama 2026. Di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi tekanan, nilai kinerja Pegadaian Jawa Timur meningkat hingga mencapai sekitar Rp16,7 triliun.
Angka tersebut naik dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp15,05 triliun. Capaian ini menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas bisnis Pegadaian di Jawa Timur masih bergerak positif selama enam bulan pertama 2026.
Pemimpin Wilayah (Pinwil) PT Pegadaian Kantor Wilayah XII Surabaya, Ahmad Zaenudin, mengatakan capaian semester pertama tersebut secara umum telah memenuhi target yang ditetapkan perusahaan.
“Kalau kita di Jawa Timur ini sebenarnya dari awal, dari RKP, kita memang sudah tercapai. Untuk kinerjanya secara umum kita sudah masuk. Semester pertama kemarin masuk,” ujar Ahmad Zaenudin.
Menurut Ahmad, perkembangan kinerja hingga pertengahan tahun menjadi modal penting bagi Pegadaian untuk melanjutkan bisnis pada semester kedua 2026.
Meski demikian, perusahaan mencermati adanya perubahan pola transaksi masyarakat, terutama di tengah tingginya harga emas.
Pegadaian Jawa Timur sebelumnya mencatat nilai kinerja sekitar Rp15,05 triliun. Memasuki semester pertama 2026, angka tersebut meningkat menjadi sekitar Rp16,7 triliun.
Capaian ini menunjukkan adanya pertumbuhan aktivitas bisnis meskipun kondisi pasar tidak sepenuhnya mudah.
Pada awal tahun, Pegadaian memasang target kinerja hingga sekitar Rp20 triliun. Namun, perkembangan bisnis selama semester pertama membuat proyeksi tersebut mulai disesuaikan dengan kondisi pasar.
“Prediksi kita kemarin itu di Rp20 triliun. Tetapi karena mengalami kelambatan, posisinya paling di angka Rp18 triliun sesuai awal kita memprediksi itu,” jelas Ahmad.
Ahmad mengatakan, perusahaan sebenarnya masih berharap dapat mencapai angka lebih tinggi apabila kondisi pasar kembali mendukung.
“Kita pengin bisa mencapai Rp20,5 triliun itu, tetapi ternyata ini mengalami kelambatan sehingga masih Rp16,7 triliun,” katanya.
Salah satu dinamika yang terlihat selama semester pertama 2026 adalah perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi emas.
Harga emas yang berada pada level tinggi membuat sebagian pemilik emas memilih menjual asetnya. Langkah tersebut dilakukan untuk merealisasikan keuntungan setelah harga emas mengalami kenaikan.
Menurut Ahmad, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar karena sebagian masyarakat memang membeli emas dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga.
“Orang punya emas itu stoknya banyak di pasaran dan kecenderungan harga itu sudah tinggi. Orang memang berupaya bagaimana menjual karena sudah untung banyak. Logislah manusia berusaha untuk menjual,” ungkapnya.
Namun, tidak semua masyarakat menjadikan emas sebagai instrumen perdagangan jangka pendek. Sebagian lainnya tetap mempertahankan emas sebagai tabungan maupun investasi.
“Kalau masyarakat ini kepemilikan emas tujuannya untuk nabung, sebenarnya tetap saja. Mereka yang pengen perhiasan ya tetap perhiasan, kemudian yang ingin punya tabungan emas tetap ada,” katanya.
Ahmad menilai pola transaksi selama semester pertama 2026 memang tidak seramai ketika harga emas mengalami kenaikan tinggi dan hampir seluruh kelompok masyarakat aktif melakukan transaksi.
“Memang enggak sebanyak yang kemarin, karena pada saat itu semua orang, baik yang motifnya trading mencari untung ataupun yang investasi, bareng kemarin,” ujarnya.
Dengan demikian, capaian Rp16,7 triliun sepanjang semester pertama menjadi gambaran penting mengenai kondisi bisnis Pegadaian Jawa Timur. Di satu sisi, kinerja masih tumbuh, tetapi di sisi lain perusahaan harus menghadapi perubahan perilaku masyarakat akibat tingginya harga emas.
Capaian tersebut selanjutnya menjadi pijakan Pegadaian Jawa Timur untuk menghadapi semester kedua 2026 dengan tetap mencermati perkembangan harga emas dan kondisi pasar.
Editor: Arif Ardliyanto