Ada Ritual Rebo Wekasan di Tengah Hutan Alas Purwo, Lima Warga Jakarta Ikut Siraman
BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Malam Rebo Wekasan di kawasan Alas Purwo, Banyuwangi, berlangsung dalam suasana penuh khidmat. Tradisi yang masih dijaga masyarakat setempat itu diisi dengan ritual siraman hingga pagelaran wayang kulit di tengah kawasan hutan.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah kehadiran lima warga asal Jakarta yang datang ke Alas Purwo untuk mengikuti prosesi siraman di Patirtan Sumbergedang, RPH Purwo, BKPH Blambangan, KPH Banyuwangi Selatan.
Kelima peserta mengikuti rangkaian ritual dengan tertib. Mereka menjalani prosesi siraman sekaligus memanjatkan doa sebagai bagian dari tradisi Malam Rebo Wekasan yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat Alas Purwo.

Patirtan Sumbergedang menjadi lokasi utama prosesi. Nuansa alam kawasan Alas Purwo berpadu dengan suasana sakral tradisi yang dijalankan masyarakat.
Setelah ritual siraman selesai, kegiatan berlanjut dengan pagelaran wayang kulit. Dalang Ki Edy Siswanto dari Jember tampil membawakan lakon Ambimanyu di hadapan masyarakat dan para peserta ritual.
Ketua Adat Masyarakat Alas Purwo, Fahrurozi atau Gus Fahru, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual. Menurutnya, tradisi Rebo Wekasan sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan kebudayaan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Rangkaian Malam Rebo Wekasan tersebut tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi para peserta, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan seni dan budaya tradisional di kawasan Alas Purwo,” ujar Gus Fahru.
Ia menjelaskan, keberadaan pagelaran wayang kulit sengaja dipertahankan karena kesenian tersebut dinilai memiliki nilai pendidikan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Menurut Gus Fahru, wayang tidak semata-mata menjadi hiburan. Cerita yang disampaikan melalui lakon pewayangan mengandung pitutur atau pesan kehidupan yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat.
“Pagelaran wayang kulit di tengah hutan Alas Purwo kami gelar karena ingin mengangkat kembali wayang sebagai salah satu warisan budaya kita. Di dalam wayang kulit terdapat pitutur atau pembelajaran yang sejati dan lengkap, yang bisa kita petik hikmah dan nilai-nilainya untuk kehidupan,” terangnya.
Karena itu, ia berharap masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memahami pesan moral yang disampaikan melalui cerita pewayangan.
“Kami berharap nilai-nilai dan pesan yang disampaikan melalui cerita wayang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat, kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan ke depan,” ucapnya.
Sementara itu, Ki Edy Siswanto mengungkapkan bahwa dirinya melakukan persiapan dan doa sebelum memulai pementasan. Langkah tersebut menjadi bentuk ikhtiar agar pertunjukan berjalan aman dan lancar.
“Sebagai seorang dalang, sebelum pentas saya melakukan ritual terlebih dahulu dan berdoa agar pementasan malam ini dapat berjalan dengan lancar. Apalagi kami menggelar pertunjukan di kawasan Alas Purwo yang memiliki suasana dan karakter tersendiri,” ujarnya.
Ia menyebut persiapan sebelum pementasan dilakukan secara lahir dan batin. Doa dan ritual tersebut dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap lokasi sekaligus ikhtiar agar pertunjukan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap seluruh rangkaian pementasan dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang hadir,” terangnya.
Rangkaian Malam Rebo Wekasan di Alas Purwo akhirnya tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan tradisi. Kegiatan tersebut juga mempertemukan ritual adat dengan kesenian wayang kulit yang sarat pesan moral.
Keberadaan kegiatan seperti ini diharapkan dapat membuat budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman. Wayang pun tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan warisan leluhur, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan kearifan dan nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.
Editor: Arif Ardliyanto