get app
inews
Aa Text
Read Next : BRI Kusuma Bangsa Dukung Penuh Pertumbuhan UMKM Pasar Kembang Surabaya

Cegah Beban Generasi Sandwich, Perlindungan Finansial Perlu Disiapkan Sejak Muda

Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:00 WIB
header img
Ketua Panitia Top Agent & Distribution Excellence Awards (TADEA) 2026, Antonius Probosanjoyo. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pemahaman masyarakat terhadap produk asuransi dinilai perlu terus ditingkatkan. Hal ini seiring masih rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia. 

Masyarakat tidak cukup hanya membeli produk asuransi, tetapi juga perlu memahami manfaat, ketentuan, serta risiko dari produk yang digunakan.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025, indeks literasi asuransi tercatat sebesar 45,45 persen. Sementara indeks inklusi asuransi masih berada pada level 28,50 persen. 

Ketua Panitia Top Agent & Distribution Excellence Awards (TADEA) 2026, Antonius Probosanjoyo, mengatakan literasi menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan industri asuransi.

Menurutnya, pembelian produk jasa keuangan harus diikuti pemahaman yang memadai agar masyarakat mengetahui secara jelas produk yang dimiliki.

“Sehingga tidak terjadi hal-hal yang membuat mereka tidak tahu ternyata apa yang mereka beli atau lakukan itu mengandung risiko,” ujar Antonius usai acara Smart Financial Day 2026 di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Rabu (12/8/2026).

Ia mengatakan tantangan tersebut semakin penting karena penetrasi asuransi jiwa di Indonesia masih berada di kisaran 28 persen. Angka tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum memiliki perlindungan asuransi. “Penetrasinya untuk asuransi jiwa kemungkinan masih 28 persen. Ini merupakan tantangan yang cukup besar,” katanya.

Menurut Antonius, peningkatan penetrasi perlu dilakukan sejak usia muda. Masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai memasuki usia produktif, perlu memahami pentingnya perencanaan dan perlindungan keuangan sejak dini.

“Paling lambat pada saat mereka duduk di bangku kuliah, karena di situlah mereka mulai melakukan perencanaan untuk masa depan,” jelasnya.

Antonius juga melihat adanya perubahan dalam pola distribusi produk asuransi jiwa di Indonesia. Penjualan tidak lagi hanya mengandalkan kanal agensi, tetapi semakin berkembang melalui berbagai kanal distribusi, termasuk bancassurance.

Perubahan tersebut turut tercermin dari penyelenggaraan TADEA 2026. Jika sebelumnya penghargaan lebih menitikberatkan pada kanal agensi, perkembangan industri membuat apresiasi kini diarahkan lebih luas terhadap kinerja dan berbagai kanal distribusi.

“Penjualan asuransi jiwa sekarang tidak hanya berasal dari kanal distribusi agensi. Bahkan, saat ini kanal distribusinya semakin beragam dan bancassurance juga memiliki kontribusi yang cukup besar,” ujarnya.

Menurut Antonius, perubahan tersebut menunjukkan industri asuransi terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Namun, perkembangan kanal distribusi tetap harus diiringi peningkatan kualitas edukasi kepada calon nasabah.

Antonius juga menyoroti fenomena sandwich generation atau generasi yang harus menanggung kebutuhan finansial orang tua sekaligus anak-anaknya.

Menurut dia, perencanaan keuangan dan perlindungan sejak usia muda dapat membantu mengurangi potensi beban finansial tersebut.

“Jangan sampai satu generasi harus menanggung generasi sebelumnya sekaligus generasi setelahnya. Setiap generasi seharusnya memiliki perlindungan finansial yang memadai,” tuturnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut