Limbah Ternak di Bondowoso Tak Lagi Terbuang, Peternak Ubah Jadi Sumber Ekonomi Baru
Menurut Mufarrihul, pendampingan Kelompok Peternak menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan program. Kelompok tersebut diharapkan tidak hanya menjadi wadah penerima pelatihan, tetapi berkembang sebagai ruang kolaborasi dan berbagi pengetahuan antarpeternak.
Penguatan sektor peternakan juga dinilai memiliki kaitan dengan perekonomian masyarakat desa. Peternakan bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi menjadi salah satu sumber penghidupan warga.
Karena itu, peningkatan produktivitas, efisiensi pengelolaan, pemanfaatan limbah, hingga keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Pendampingan diarahkan agar masyarakat mampu mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya, mengembangkan keterampilan, dan menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan,” kata Mufarrihul.
Dari sisi kesehatan, kebersihan kandang dan pengelolaan limbah menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan peternakan yang lebih baik. Kondisi kandang yang terawat juga mendukung pemantauan kesehatan ternak secara rutin.
Upaya tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDGs 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Perwakilan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bondowoso, Drh. Moech Saifoel, M.P., menilai kolaborasi berbagai pihak diperlukan untuk meningkatkan kesadaran peternak terhadap kesehatan hewan dan produktivitas usaha.
“Kesadaran mengenai kebersihan kandang, pengelolaan limbah dan pemantauan kesehatan ternak perlu dibangun bersama. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan masyarakat desa dapat memperluas ruang edukasi sekaligus membantu kami melihat kebutuhan yang muncul di tingkat peternak,” ujarnya.
Dosen pendamping Tatak Setiadi, M.A., juga mengingatkan bahwa perubahan dalam pengelolaan peternakan tidak harus dilakukan secara sekaligus.
“Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus. Yang lebih penting adalah masyarakat memahami mengapa kebersihan kandang, pengelolaan limbah, dan pemantauan ternak diperlukan, kemudian menentukan kebiasaan yang paling memungkinkan untuk diterapkan dan dijaga bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Peternak Milenial, Hadi, berharap kelompok tersebut tetap aktif meski kegiatan pendampingan lapangan telah berakhir.
“Kami ingin kelompok ini tidak hanya aktif saat ada kegiatan dari luar. Harapannya anggota bisa saling bertukar pengalaman, mencoba pengolahan limbah, dan mengingatkan soal kebersihan kandang maupun kondisi ternak. Kalau ada persoalan yang tidak bisa kami tangani, kelompok juga lebih mudah berkomunikasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Salah satu praktik yang didorong dalam program ini adalah pemanfaatan limbah ternak menjadi kompos. Langkah tersebut memberikan contoh penerapan ekonomi sirkular dalam skala desa.
Limbah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sisa peternakan dapat diolah kembali menjadi bahan yang memiliki nilai guna. Di sisi lain, pengelolaan kandang dan kesehatan ternak yang lebih baik diharapkan mampu mendukung produktivitas peternak.
Dengan pendekatan tersebut, aspek kesehatan, lingkungan, dan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Pendampingan peternak di Bondowoso ini merupakan bagian dari program ICD UNESA 2026 yang mendapat dukungan pendanaan LPDP dan berkaitan dengan Program Equity.
Melalui Kelompok Peternak Milenial, modul pelatihan, serta jejaring dengan pemerintah daerah, praktik kebersihan kandang, pengolahan limbah menjadi kompos, dan perhatian terhadap kesehatan hewan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pendampingan.
Program tersebut ditargetkan berkembang menjadi kebiasaan yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat sehingga pengelolaan peternakan di Desa Kalianyar semakin sehat, produktif, ramah lingkungan, dan mampu membuka peluang ekonomi baru.
Editor : Arif Ardliyanto