get app
inews
Aa Text
Read Next : Inspiratif! Mantan Atlet Judo Raih Dua Gelar Sekaligus di Untag Surabaya, Penguji Terpukau

3 Tahun Berjuang, Penasehat APBMI Ini Raih Gelar Doktor, Ungkap Rahasia Efisiensi Bongkar Muat

Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:39 WIB
header img
Penasehat APBMI Haryono meraih gelar doktor setelah tiga tahun riset. Penelitiannya mengungkap peran teknologi dalam meningkatkan efisiensi perusahaan bongkar muat. Foto iNewsSurabaya.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Perjalanan meraih gelar doktor menjadi babak panjang yang harus dilalui Haryono, Penasehat Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI). Di tengah kesibukannya menjalankan profesi dan berkecimpung di industri bongkar muat, ia menuntaskan pendidikan S3 setelah menjalani proses riset selama kurang lebih tiga tahun.

Wisuda tersebut terasa berbeda bagi Haryono. Jika sebelumnya ia telah beberapa kali menjalani wisuda, pendidikan doktoral menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks. Bukan hanya menyelesaikan perkuliahan, ia juga dituntut menghasilkan penelitian yang memiliki unsur kebaruan serta didukung publikasi ilmiah.

“Prosesnya sebenarnya sulit. Kalau bicara wisuda, saya sudah sering wisuda, tetapi untuk S3 memang membutuhkan kesabaran dan kerja keras. Banyak tugas yang harus diselesaikan dan penelitian juga harus bersandar pada jurnal internasional,” ujar Haryono.


Penasehat APBMI Haryono meraih gelar doktor setelah tiga tahun riset. Penelitiannya mengungkap peran teknologi dalam meningkatkan efisiensi perusahaan bongkar muat. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Dalam penelitian doktoralnya, Haryono memilih perusahaan bongkar muat multipurpose di Jawa Timur sebagai objek penelitian. Riset tersebut dilakukan di sejumlah daerah yang memiliki aktivitas bongkar muat, mulai dari Gresik, Tuban, Surabaya, Probolinggo, Banyuwangi hingga Sumenep.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penyebaran kuesioner kepada perusahaan yang menjadi objek penelitian. Pengalamannya selama bertahun-tahun di sektor bongkar muat turut membantu proses pengumpulan data.

Keterlibatannya dalam organisasi profesi membuat komunikasi dengan pelaku usaha menjadi lebih terbuka. Haryono juga tidak asing dengan dinamika industri karena memiliki pengalaman profesional di bidang angkutan laut, termasuk pernah menjalani profesi sebagai kapten kapal.

“Kesulitan secara teknis sebenarnya tidak terlalu ada. Saya kebetulan juga aktif di kepengurusan bongkar muat, sehingga teman-teman banyak membantu menjawab beberapa pertanyaan yang saya gunakan sebagai bahan penelitian,” katanya.

Salah satu perhatian utama dalam penelitian Haryono adalah bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan bongkar muat.

Ia menilai perkembangan teknologi memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengelola kegiatan operasional secara lebih cepat dan terukur. Sistem yang mampu menyajikan informasi secara real time, menurutnya, dapat membantu pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan efisiensi waktu dan potensi keuntungan perusahaan.

“Dasarnya memang penelitian terdahulu, tetapi objek penelitian dan apa yang kita temukan harus original. Saya ingin melihat bagaimana teknologi bisa membuat efisiensi waktu tercapai dan profit perusahaan bisa lebih maksimal,” jelasnya.

Menurut Haryono, tuntutan terhadap penelitian doktoral tidak berhenti pada pengembangan teori. Hasil riset juga diharapkan mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi dunia industri.

“Dengan teknologi ini, semuanya bisa real time sehingga keputusan bisa menjadi lebih tepat. Saya berharap hasil penelitian ini nantinya benar-benar bisa diaplikasikan perusahaan,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan S3, Haryono berharap perusahaan bongkar muat di Indonesia semakin mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurut dia, pengalaman tetap penting, tetapi tidak cukup jika tidak dibarengi kompetensi dan pemahaman teknologi.

“Jangan sampai perusahaan hanya dijalankan karena bisa dan karena biasa. Perusahaan harus profesional dan berdasarkan kompetensi. Kita juga harus memahami teknologi,” tegasnya.

Ia juga melihat persaingan bisnis yang semakin terbuka sebagai tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan bongkar muat nasional. Pelaku industri dinilai perlu memperluas jaringan, tidak hanya mengandalkan pasar domestik.

“Kita jangan bermain di lokal saja, tetapi harus global. Jaringan harus dikembangkan ke wilayah yang lebih luas, termasuk mancanegara, supaya perusahaan bisa bertahan dan mencapai keunggulan kompetitif yang berkesinambungan,” pungkas Haryono.

Dukungan Istri Menjadi Penguat Perjalanan S3

Di balik keberhasilan Haryono menyelesaikan pendidikan doktoral, terdapat dukungan keluarga yang menemani perjalanan akademiknya. Sang istri, Neny Triana, mengaku terbiasa melihat suaminya menyelesaikan berbagai tugas perkuliahan dan penelitian hingga larut malam.

Meski tidak selalu menemani secara langsung karena harus beristirahat, Neny memastikan dukungan kepada suaminya tetap diberikan hingga pendidikan tersebut selesai.

“Kalau belajar sampai malam, saya sudah tidur. Tetapi saya selalu mensupport suami sampai lulus,” kata Neny.

Pada momen wisuda, Neny hadir mendampingi Haryono bersama putrinya, Nunky Jayanti Putri. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Haryono menyelesaikan pendidikan doktoral yang membutuhkan kesabaran, konsistensi dan waktu.

Bagi Haryono, gelar doktor yang diraihnya bukan sekadar pencapaian akademik. Ia berharap hasil penelitian yang dilakukan selama tiga tahun dapat memberikan manfaat nyata bagi industri bongkar muat, terutama dalam menghadapi tuntutan digitalisasi, efisiensi operasional dan persaingan bisnis yang semakin luas.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut