get app
inews
Aa Text
Read Next : Prabowo Bikin Geger di Muktamar NU Jombang, Tiba-Tiba Minta Kartu Anggota kepada Gus Yahya

Bukan Nama Baru, Sosok Ini Kembali Muncul dalam Perebutan Rais Aam PBNU

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:56 WIB
header img
Nama KH Miftachul Akhyar kembali mencuat dalam bursa Rais Aam PBNU di Muktamar ke-35 NU. Pengurus daerah menilai kapasitas dan pengalaman keulamaannya dibutuhkan NU.Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Bursa calon Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang semakin menjadi perhatian. Di tengah dinamika pemilihan pimpinan tertinggi Syuriyah NU, nama KH Miftachul Akhyar kembali mencuat dan mendapat dukungan dari sejumlah pengurus NU di daerah.

Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu dinilai memiliki pengalaman serta kapasitas keulamaan yang dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU, khususnya ketika organisasi memasuki abad kedua.

Sosok KH Miftachul Akhyar juga dianggap memiliki posisi penting dalam menjaga kewibawaan Syuriyah sekaligus memastikan keputusan organisasi tetap berpijak pada tradisi keulamaan dan khittah NU.

Perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar telah dibangun sejak usia belia. Ia mulai menimba ilmu di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ketika berusia sekitar delapan tahun.

Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke sejumlah pesantren, di antaranya Rejoso atau Darul Ulum, Sidogiri, serta Al-Islah Soditan Lasem. Ia juga tercatat berguru melalui majelis Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

Jejak pendidikan tersebut menjadi salah satu alasan munculnya pandangan bahwa KH Miftachul Akhyar memiliki bekal keilmuan yang kuat untuk kembali memimpin Syuriyah PBNU.

Bukan hanya soal keilmuan, sikap dalam menjalankan amanah organisasi juga menjadi bagian dari rekam jejaknya.

Pada 2022, KH Miftachul Akhyar memilih mundur dari posisi Ketua Umum MUI. Keputusan tersebut diambil untuk lebih fokus menjalankan pengabdian sekaligus menghindari rangkap jabatan.

Tegaskan Peran Syuriyah Saat NU Menghadapi Dinamika Kepemimpinan

Rekam jejak KH Miftachul Akhyar juga terlihat ketika NU menghadapi persoalan terkait kepemimpinan organisasi.

Dalam situasi tersebut, ia menegaskan kembali posisi dan otoritas Syuriyah. Sikap itu kemudian mendapat dukungan dari 36 pengurus wilayah NU hingga mendorong pelaksanaan Muktamar dipercepat.

Kehadiran KH Miftachul Akhyar tidak hanya terlihat dalam forum organisasi. Ia juga menjadi salah satu figur yang berperan menjaga suasana kebersamaan di kalangan nahdliyin.

Menjelang Muktamar NU ke-35, ia memimpin istighosah yang diikuti ribuan nahdliyin. Momentum tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat persaudaraan sebelum forum tertinggi organisasi digelar.

Khutbah Iftitah Jadi Penanda Tradisi Keulamaan NU

Nuansa tradisi keulamaan juga terlihat dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

KH Miftachul Akhyar menyampaikan Khutbah Iftitah menggunakan bahasa Arab. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan para pendahulu NU yang terus dipertahankan.

Dalam khutbahnya, ia menyampaikan tiga hal yang menjadi kegembiraan. Pertama, kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kedua, 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Ketiga, terselenggaranya Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, pesantren yang memiliki kaitan erat dengan salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.

Ia juga mengingatkan mengenai bahaya fitnah. Dalam pesan yang disampaikannya, fitnah disebut sebagai kondisi ketika kebenaran dan kebatilan bercampur sehingga sulit dibedakan.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah dinamika Muktamar, termasuk proses pemilihan Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU.

Pengurus NU Daerah Berharap KH Miftachul Akhyar Kembali

Dukungan terhadap KH Miftachul Akhyar untuk kembali menduduki posisi Rais Aam PBNU juga datang dari pengurus NU di daerah.

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara, M. Ridwan Butar-Butar, menyampaikan harapannya agar KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin Rais Aam PBNU.

"Harapan kami KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU. Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU," ujarnya.

Menurutnya, sosok yang memimpin PBNU harus mampu menjaga persatuan sekaligus mempertahankan marwah organisasi.

"Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut," tegasnya.

Pengabdian KH Miftachul Akhyar juga mendapat pengakuan dari negara. Pada 2025, ia menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden.

Kini, dinamika Muktamar ke-35 NU kembali menempatkan posisi Rais Aam sebagai salah satu perhatian utama. Figur yang dipilih nantinya tidak hanya dituntut memiliki kapasitas keilmuan, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan organisasi di tengah berbagai kepentingan.

Bagi pendukung KH Miftachul Akhyar, kepemimpinan Syuriyah di abad kedua NU membutuhkan sosok yang kuat dalam tradisi keulamaan dan tidak mudah terseret kepentingan politik praktis.

Pada akhirnya, keputusan berada di tangan para muktamirin. Muktamar NU ke-35 menjadi momentum penting untuk menentukan arah organisasi sekaligus memilih figur yang dinilai mampu menjaga tradisi, persatuan, dan khittah NU di tengah perubahan zaman.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut