Nasaruddin Umar (NU) dan Politik Jalan Tengah NU
OPINI Oleh:
Munawar Fuad Nuh, Nahdliyin Sekaligus Intelektual NU, Assoc Professor International Relation, President University
ADA yang sedih, marah, kesal dan kecewa dan sekaligus ada yang gembira dan sukacita atas sikap dan keputusan Prof Nasaruddin Umar mundur dari kontestasi calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Keputusan Prof KH DR Nasaruddin Umar, MA, untuk tidak melanjutkan kontestasi sebagai calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang merupakan sebuah keputusan politik-organisatoris yang menarik untuk dibaca lebih jauh. Sebut saja panggilannya, Kyai NU Mundur dari Kontestasi, Memilih Khidmah yang Lebih Luas. Kiai NU Mundur dari Kontestasi, Memilih Khidmah yang Lebih Luas
Sekilas, keputusan tersebut tampak sebagai pengunduran diri dari arena perebutan kepemimpinan. Namun jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, pilihan Kyai NU justru dapat dibaca sebagai politik jalan tengah NU: tidak memperebutkan kekuasaan organisasi, tetapi tetap mengambil bagian dalam perjuangan besar NU melalui pengabdian kepada agama, bangsa dan negara.
Jika ada seorang anak bangsa yang sejak lahir sangat dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU) dalam sepanjang pengabdiannya itulah Nasaruddin Umar kalau disingkat namanya menjadi NU. Kedua orang tuanya, Haji Andi Muhammad Umar (ayah) dan Hajah Andi Bunga Tungke menyematkan nama NU sejak terlahirkan.
Tentu saja Nasaruddin Umar adalah nama diri seseorang, yaitu nama lengkap dari tokoh ulama, akademisi, dan Menteri Agama Republik Indonesia dan Imam Besar Masjid Istiqlal saat ini.
Sebut saja Kyai NU (Nasaruddin Umar), yang namanya dari bahasa Arab, Nasaruddin berarti, pertolongan atau kemenangan agama. Umar Dari akar kata bahasa Arab ‘amara yang berarti memakmurkan, meramaikan, berkembang, atau berumur panjang. namanya menunjukkan nama diri yang bermakna orang yang panjang umur atau hidupnya makmur. Nama ini juga diasosiasikan dengan sahabat Nabi sekaligus Khalifah kedua, Umar bin Khattab.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar