Nasaruddin Umar (NU) dan Politik Jalan Tengah NU
Dalam perspektif inilah keputusan Kyai NU memiliki makna simbolik: mundur dari kontestasi bukan berarti mundur dari khidmah. Ia hanya memilih medan pengabdian yang berbeda. Dari perebutan posisi menuju pelayanan publik. Dari kompetisi menuju rekonsiliasi.
Dari kepentingan kelompok menuju kemaslahatan bangsa.
Itulah politik jalan tengah NU: tidak selalu berada di tengah perebutan kekuasaan, tetapi selalu berada di tengah perjuangan menjaga agama, persatuan dan kemaslahatan Indonesia.
Muanwar Fuad, Aktivis NU, menyatakan : Saya tak pernah melihat atau menyaksikan Kyai NU mendeklarasikan diri bersama para pendukung Kyai NU sebagai Calon Ketua UMUM PBNU sebagaimana kandidat lain. Yang ada adalah para “muhibbin”, para pendukung setia, pengagum, dan pengikutnya karena relasi Guru Murid, relasi jamaah pengajian dan lingkungan Kader NU dari alumni pergerakan mahasiswa dan badan otonom, terkhusus dari latar kementerian agama dan luar Jawa. Dukungan itu mengalir dan mendeklarasikan diri secara alami untuk mendukung kesediaan dan memohon Kyai NU dicalonkan sebagai Calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke 35 NU.
MUnawar Fuad, Ketua Mantan Sekretaris Jenderal GP Ansor, menyebut Motif yang paling aman secara faktual adalah motif yang disampaikan sendiri oleh Nasaruddin Umar: konsentrasi menjalankan tugas sebagai Menteri Agama.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar