get app
inews
Aa Text
Read Next : Massa Ricuh di Muktamar NU Jombang, Teriak Ganti Pimpinan hingga Terjadi Kebakaran Kecil

Bursa Ketum PBNU Memanas, Gus Kikin dan Gus Yahya Muncul sebagai Dua Nama Kuat

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04 WIB
header img
Muktamar NU ke-35 mengubah mekanisme pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA dengan 401 suara. Nama Gus Kikin menguat di tengah dinamika bursa calon. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

JOMBANG, iNewsSurabaya.id – Peta perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berubah setelah Muktamar ke-35 NU menyepakati mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).

Keputusan tersebut diambil setelah mayoritas muktamirin menolak mekanisme pemilihan langsung. Dalam pemungutan suara, pilihan AHWA memperoleh 401 suara, sedangkan mekanisme pemilihan langsung hanya mendapatkan 150 suara.

Perubahan mekanisme ini menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.

Tak hanya soal mekanisme pemilihan, forum muktamar juga menyepakati Pasal 7 Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam PBNU. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah ketentuan mengenai masa jeda atau iddah politik selama satu tahun bagi calon yang memiliki keterkaitan dengan partai politik.

Aturan tersebut membuat sejumlah nama yang sebelumnya masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU berpotensi tidak memenuhi persyaratan.

Penerapan AHWA membuat proses pemilihan Ketua Umum PBNU tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada mekanisme pemilihan langsung oleh peserta muktamar.

Saat ini, proses penjaringan calon anggota AHWA masih berlangsung. Lebih dari 21 nama kiai dan ulama disebut tengah masuk dalam penghitungan suara untuk menentukan komposisi AHWA.

Di tengah proses tersebut, peta kandidat Ketua Umum PBNU mulai mengerucut. Dua nama yang mencuat adalah Gus Kikin dan Gus Yahya.

Sementara itu, lima calon disebut telah menyatakan kesepakatan bahwa pemilihan Ketua Umum PBNU dilakukan melalui mekanisme AHWA.

Perubahan mekanisme tersebut juga dinilai sejalan dengan aspirasi sebagian besar warga NU yang menginginkan organisasi lebih fokus pada persoalan keumatan dan keagamaan.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut