Investor China dan Jepang Lirik Madura, DPRD Jatim Ungkap Syarat agar Investasi Tak Sekadar Wacana
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Madura mulai mencuri perhatian investor asing. Peluang pengembangan energi, industri garam, kawasan ekonomi khusus hingga pariwisata bahari membuat sejumlah investor dari berbagai negara mulai menjajaki potensi investasi di Pulau Garam.
Investor asal China, Korea Selatan dan Jepang disebut menjadi bagian dari investor yang mulai melihat peluang di Madura. Selain itu, perusahaan dari Inggris hingga Uni Emirat Arab juga dikabarkan tengah membuka komunikasi untuk menjajaki kerja sama investasi.
Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi empat kabupaten di Madura, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan (Dapil) XIV Madura, Agus Wahyudi, mengatakan ketertarikan investor asing tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Menurut politikus NasDem tersebut, masuknya modal dari luar negeri dapat menjadi salah satu jalan untuk mempercepat pembangunan ekonomi Madura yang selama ini masih menghadapi ketertinggalan dibandingkan sejumlah wilayah lain di Jawa Timur.
“Adanya minat dari negara asing untuk berinvestasi harus kita tangkap sebagai peluang emas untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan warga Madura,” ujar Agus.
Agus menilai besarnya peluang investasi tersebut harus diikuti dengan kesiapan pemerintah. Pemprov Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten di Madura diminta segera memastikan berbagai kebutuhan dasar investasi benar-benar tersedia.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kepastian hukum dan kemudahan perizinan. Menurut Agus, investor membutuhkan proses yang jelas, transparan dan memiliki kepastian waktu.
Ia meminta pemerintah memberikan kemudahan bagi investor tanpa mengabaikan aturan yang berlaku.
“Pemerintah harus menggelar ‘karpet merah’ dalam arti memberikan kemudahan perizinan yang transparan dan bebas pungutan liar. Jangan sampai calon investor yang sudah berminat justru mundur karena terhambat urusan birokrasi yang berbelit-belit,” tegasnya.
Tak hanya persoalan perizinan, infrastruktur dasar juga menjadi pekerjaan rumah. Ketersediaan listrik, akses jalan dan air bersih dinilai menjadi faktor penting yang dapat menentukan keputusan investor ketika memilih lokasi investasi.
Karena itu, DPRD Jatim mendorong agar belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur benar-benar diarahkan pada kebutuhan yang mampu membuka akses ekonomi baru bagi masyarakat.
Salah satu kawasan yang disebut mulai membuka peluang investasi internasional adalah Kawasan Industri Wiraraja Madura di Bangkalan.
Kawasan tersebut dikabarkan tengah menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah calon investor dari berbagai negara. Tiongkok menjadi salah satu negara yang disebut menunjukkan ketertarikan, disusul perusahaan dari Korea Selatan, Jepang, Inggris dan Uni Emirat Arab.
Agus mengatakan keberagaman calon investor tersebut menjadi sinyal bahwa potensi industri di Madura mulai mendapatkan perhatian lebih luas.
“Kehadiran investor multinasional tersebut membuat pengembangan kawasan industri di Madura tidak hanya bertumpu pada satu sumber modal. Sejumlah pembicaraan bisnis juga disebut telah memasuki tahap penjajakan kerja sama dengan calon investor dari beberapa negara,” katanya.
Potensi tersebut juga dinilai dapat memperkuat posisi Madura sebagai salah satu kawasan yang memiliki peluang untuk mengembangkan industri berbasis sumber daya lokal.
Sektor energi dan hilirisasi garam menjadi dua bidang yang dinilai memiliki peluang besar. Selama ini, garam menjadi salah satu komoditas yang lekat dengan kehidupan masyarakat Madura, namun pengembangannya dinilai masih dapat ditingkatkan melalui proses hilirisasi.
Investasi Asing Harus Libatkan Warga Madura
Di balik peluang masuknya modal asing, Agus mengingatkan agar investasi tidak berhenti pada pembangunan kawasan atau masuknya perusahaan besar.
Menurut dia, ukuran keberhasilan investasi harus dilihat dari seberapa besar dampaknya terhadap masyarakat sekitar.
Penyerapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Selain itu, perusahaan besar juga didorong membangun kemitraan dengan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Madura.
“Investasi tidak cukup hanya mendatangkan modal dari luar daerah maupun luar negeri. Masyarakat Madura juga harus mendapatkan manfaat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, dan keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai ekonomi,” jelasnya.
Dengan demikian, investasi asing tidak hanya menghasilkan aktivitas ekonomi di kawasan industri, tetapi juga menciptakan efek berantai bagi masyarakat.
Agus berharap komunikasi antara Pemprov Jatim, pemerintah kabupaten, DPRD dan calon investor dapat terus diperkuat. Kesiapan regulasi, infrastruktur dan sumber daya manusia dinilai harus berjalan beriringan.
Jika seluruh kebutuhan tersebut mampu disiapkan, ketertarikan investor dari berbagai negara berpeluang menjadi momentum baru bagi Madura untuk mempercepat transformasi ekonomi dan mengurangi kesenjangan pembangunan dengan wilayah lain di Jawa Timur.
Editor: Arif Ardliyanto