Band Pelajar Semarang dan Bandung Ikut Bersaing di Festival Musik Surabaya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kompetisi musik pelajar di Surabaya menarik peserta dari berbagai daerah. Smekdor Fiesta Music Fest 2026 tidak hanya diikuti band asal Jawa Timur, tetapi juga menarik minat pelajar dari luar daerah, termasuk Semarang dan Bandung.
Kompetisi band tingkat nasional yang diselenggarakan SMK Dr. Soetomo (Smekdor) Surabaya tersebut mencapai puncaknya dalam babak grand final di Pekan Raya Jatim (PRJ).
Kepala SMK Dr. Soetomo Surabaya, Juliantono Hadi, mengatakan tahun ini terdapat 23 peserta yang mendaftar. Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 15 band berhasil melaju ke babak grand final.
Peserta dari luar Jawa Timur mengikuti audisi khusus untuk memperebutkan golden ticket menuju babak utama. Salah satu peserta yang berhasil mendapatkan tiket tersebut adalah Lohjinawi, band pelajar asal Semarang.
“Smekdor Fiesta Music Fest menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan bakat, menghasilkan karya, dan menunjukkan kemampuan bermusik di hadapan publik,” katanya, Minggu (18/10/2026).
Penyelenggaraan tahun ini, kata dia, juga menghadirkan pembaruan melalui penggunaan drum elektrik untuk menyesuaikan kompetisi dengan perkembangan teknologi musik. “Ternyata, dengan drum elektrik pun para peserta mampu tampil maksimal,” ujarnya.
Vokalis Lohjinawi, Leonora Gwen Carissa Audrey Hartanto, mengaku bangga mendapat kesempatan tampil dalam kompetisi tersebut. Dia bersama rekan-rekannya menjalani persiapan selama tiga minggu dengan dukungan guru di sekolah.
Menurut Gwen, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk mengasah mental, meningkatkan kemampuan bermusik, serta tampil di hadapan musisi berpengalaman. “Kesempatan ini membuat kami bisa belajar dan mengukur kemampuan bermusik di panggung yang lebih besar,” katanya.
Dalam kompetisi ini, D'Summer, band indie asal Surabaya, berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati The Vesto, disusul The Octavolt di posisi ketiga. Sementara itu, The Juniors First meraih gelar Juara Favorit.
Musisi senior sekaligus produser musik asal Surabaya, Khoirul Arifin atau Petok mengatakan, kegiatan musik dapat menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan memanfaatkan teknologi secara produktif.
Dalam penilaian grand final, juri memberikan bobot 70 persen untuk lagu ciptaan sendiri dan 30 persen untuk lagu cover atau lagu pilihan. Penilaian lagu orisinal meliputi daya tarik melodi, kemudahan didengar, karakter lagu, serta kemampuan menyampaikan pesan dan ekspresi.
Dewan juri terdiri atas Petok, Restu yang merupakan drummer Boogie Band, serta Ari alias Mister Pink, musisi senior di kancah rock dan indie Surabaya.
Editor: Arif Ardliyanto