Perjalanan Wisata Jatim Menurun, Okupansi Hotel Ikut Tertekan
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Aktivitas pariwisata Jawa Timur (Jatim) mengalami perlambatan pada Juli 2026. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) yang berasal maupun menuju Jatim sama-sama mengalami penurunan. Sementara tingkat penghunian kamar (okupansi) hotel juga terkoreksi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, perjalanan wisnus yang berasal dari Jatim pada Juli 2026 mencapai 16,52 juta perjalanan. Angka tersebut turun 0,54 persen dibandingkan Juni 2026.
Kota Surabaya menjadi daerah asal perjalanan wisata terbesar dengan 2,55 juta perjalanan atau sekitar 15,43 persen dari total perjalanan wisnus asal Jatim. Berikutnya Kabupaten Sidoarjo dengan 1,85 juta perjalanan.
Namun, secara tahunan, sejumlah daerah mencatat penurunan perjalanan wisnus. Kabupaten Sumenep menjadi daerah dengan penurunan paling signifikan, yakni 35,81 persen dibandingkan Juli 2025.
Tekanan juga terlihat dari jumlah wisnus yang melakukan perjalanan dengan tujuan Jatim. Pada Juli 2026 tercatat 17,31 juta perjalanan, turun 0,40 persen secara bulanan dan 2,53 persen secara tahunan.
“Surabaya kembali menjadi daerah tujuan wisata terbesar dengan 2,22 juta perjalanan atau 12,80 persen dari total perjalanan wisnus ke Jatim. Kabupaten Malang berada di urutan berikutnya dengan 1,21 juta perjalanan,” ungkap Plt Kepala BPS Jatim Ir Herum Fajarwati dalam rilisnya, Rabu (2/9/2026).
Pelemahan mobilitas wisatawan turut tercermin pada kinerja perhotelan. Okupansi hotel berbintang di Jatim pada Juli 2026 berada di level 52,72 persen, turun 1,51 poin dibandingkan Juni yang mencapai 54,23 persen.
Artinya, dari setiap 100 kamar hotel berbintang yang tersedia, rata-rata hanya sekitar 52 hingga 53 kamar yang terisi setiap malam.
Penurunan terutama terjadi pada hotel bintang 3 dan bintang 4. Tingkat penghunian kedua kelas hotel tersebut masing-masing turun 2,75 poin dan 2,37 poin.
Sebaliknya, sejumlah kelas hotel masih mencatat pertumbuhan. TPK hotel bintang 1 naik 6,75 poin, bintang 2 meningkat 0,47 poin, dan bintang 5 bertambah 2,83 poin.
Tekanan lebih besar terjadi pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya. TPK kelompok tersebut turun 2,08 poin, dari 25,93 persen pada Juni menjadi hanya 23,85 persen pada Juli 2026.
Data BPS juga menunjukkan tingkat penghunian hotel berbintang belum merata di seluruh Jatim. Kabupaten Tulungagung mencatat TPK tertinggi sebesar 68,91 persen, disusul Kota Mojokerto 65,01 persen dan Kabupaten Gresik 61,55 persen.
Editor : Arif Ardliyanto