Era AI Bikin Dunia Berubah, 1.312 Mahasiswa Baru di Surabaya Dibekali 3 Kunci Hadapi Masa Depan
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Kondisi tersebut membuat mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi, keterampilan, integritas, dan keberanian menciptakan perubahan juga menjadi bekal penting.
Pesan itu disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., ketika memberikan pembekalan kepada 1.312 mahasiswa baru Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2026/2027.
Dyah meminta mahasiswa baru tidak melihat perkembangan teknologi, termasuk AI, sebagai ancaman. Sebaliknya, teknologi harus dipahami sebagai sarana yang dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Namun, di balik kemajuan teknologi tersebut, mahasiswa tetap harus memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri.
Menurut Dyah, masa perkuliahan merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun kompetensi sekaligus mempersiapkan diri agar mampu memberikan kontribusi di tengah masyarakat.
“Saya berharap, maba ini betul-betul punya kekuatan dan peluang baru untuk menjadi agen perubahan sebagai mahasiswa yang punya kontribusi untuk mewujudkan kampus berdampak,” kata Dyah.
Dyah menilai kehidupan kampus seharusnya tidak hanya diisi dengan kegiatan perkuliahan. Mahasiswa perlu memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di luar ruang kelas.
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), kegiatan sosial, maupun berbagai aktivitas yang mendorong mahasiswa menghasilkan karya dan memberikan manfaat kepada masyarakat dinilai dapat menjadi pengalaman penting.
Karena itu, mahasiswa dituntut memiliki kombinasi antara pengetahuan dan kemampuan praktis.
“Kami berharap mahasiswa ini juga punya kekuatan di dalam science, knowledge, know-how, and skill untuk memenangkan persaingan saat ini yang ditanamkan oleh Adi Buana tercinta,” ujarnya.
Menurut Dyah, kompetensi tersebut semakin penting di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat. Lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya memahami teori, tetapi harus mampu menerapkannya untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Perkembangan AI menjadi salah satu perhatian dalam pembekalan mahasiswa baru Unipa Surabaya. Teknologi ini kini dapat dimanfaatkan untuk mencari informasi, mengolah data hingga membantu menyelesaikan pekerjaan tertentu.
Meski demikian, Dyah mengingatkan mahasiswa agar tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI.
“AI itu alat bantu ya, tapi kalau manusia itu adalah penentu. Yang menjalankan AI adalah manusia,” tegasnya.
Ia menilai manusia tetap memiliki peran penting karena keputusan tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi. Akal, pemikiran, sikap, dan perilaku manusia menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam penggunaan AI.
“Sebagai alat bantu, itu adalah hanya salah satu indikator saja atau dua indikator yang membantu manusia bekerja. Dan manusia adalah yang memberikan keputusan dalam pekerjaan itu,” jelas Dyah.
Karena itu, pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan tinggi harus dibarengi dengan tanggung jawab. Kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi tidak boleh membuat mahasiswa mengabaikan proses akademik.
“Tantangannya banyak. Termasuk adalah sistem yang, istilahnya AI itu adalah alat bantu, itu mudah sekali untuk kita mengambil informasi atau data,” katanya.
Dyah menekankan bahwa integritas harus dibangun sejak mahasiswa pertama kali memasuki lingkungan perguruan tinggi.
“Makanya kami tanamkan; integritas dibangun, budaya akademik dibangun untuk memenangkan persaingan saat ini,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Dr. Untung Lasiyono, S.E., M.Si., mengatakan PKKMB menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mengenal sekaligus beradaptasi dengan kehidupan perguruan tinggi.
Pada tahun akademik 2026/2027, Unipa Surabaya membawa konsep Edu Techno-preneurship yang berdampak.
Konsep tersebut menggabungkan tiga unsur, yakni pendidikan, teknologi, dan kewirausahaan. Ketiganya dinilai penting untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan zaman sekaligus dunia kerja.
“Jadi maba ini tentunya sebelum memulai kegiatan akademik, kita berikan pembekalan yang intinya supaya lebih siap terutama di dalam memasuki dunia perguruan tinggi yang mungkin sebelumnya ada pada tingkat sekolah menengah, SMA atau SMK,” ujar Untung.
Menurut dia, pendidikan tetap menjadi fondasi utama. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki sejarah sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Unipa Surabaya terus mengembangkan konsep pembelajaran yang dapat diterapkan di berbagai fakultas dan program studi.
“Edu jelas ya, masalah pendidikan itu menjadi core. Dan kebetulan di Universitas Adi Buana itu kalau dalam hal pembelajaran, pendidikan, karena basic kita dulu adalah LPTK, maka konsep, media, dan model-model pembelajaran itu sudah cukup bagus sekali,” tuturnya.
Unsur kedua dalam konsep tersebut adalah teknologi. Untung mengatakan perubahan teknologi digital membuat mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu harus memiliki kemampuan beradaptasi.
Pembelajaran berbasis teknologi digital pun terus diberikan kepada mahasiswa di seluruh program studi. Pemahaman mengenai AI juga mulai diperkenalkan sebagai bagian dari kesiapan menghadapi perubahan zaman.
“Kita selalu menyesuaikan perkembangan zaman, perkembangan teknologi, sehingga techno juga kita berikan kepada mahasiswa seluruh program studi. Sehingga kurikulum yang berbasis teknologi digital itu kita berikan,” katanya.
Menurut Untung, kemampuan memanfaatkan teknologi bukan hanya kebutuhan mahasiswa yang mengambil bidang teknologi informasi. Setiap mahasiswa perlu memahami teknologi sesuai dengan bidang keilmuan dan kebutuhan profesinya.
Unsur berikutnya adalah kewirausahaan. Unipa Surabaya membekali mahasiswa dengan materi entrepreneur melalui pendekatan teori dan praktik.
Langkah tersebut diarahkan agar mahasiswa memiliki pilihan lebih luas setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk masuk ke dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang secara mandiri.
“Yang ketiga yaitu masalah entrepreneur, kewirausahaan. Nah ini juga kita bekalkan kepada mahasiswa semua program studi, kita bekali materi baik teori maupun praktek yang terkait dengan entrepreneur,” ungkapnya.
Untung menegaskan, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki daya saing sekaligus kemandirian.
“Jadi mahasiswa kami siapkan tidak hanya nanti menjadi lulusan yang siap untuk bersaing, berkompetisi di dalam lowongan pekerjaan atau lapangan kerja, tetapi mahasiswa juga kita bekali untuk bisa mandiri,” jelas Untung.
Ketiga unsur tersebut kemudian dirangkai menjadi konsep Edu Techno-preneurship.
“Dia menguasai edukasinya, dia menguasai teknologinya, dia menguasai preneur-nya. Nah itu yang kita jadikan Edu Techno-preneurship, dan itu harus berdampak,” katanya.
Pendidikan Unipa Menjangkau Mahasiswa di Daerah 3T
Pengembangan pendidikan di Unipa Surabaya juga diarahkan agar dapat menjangkau mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Untung menyebut terdapat mahasiswa Unipa yang tersebar di berbagai daerah. Salah satunya melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memberikan kesempatan kepada guru berpengalaman tetapi belum menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S1.
Program tersebut menjadi bagian dari kepercayaan pemerintah kepada Unipa Surabaya sebagai salah satu LPTK penyelenggara.
“Karena kita punya juga mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di daerah 3T. Yaitu mahasiswa RPL, PPKA, yaitu programnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dipercayakan kepada kita untuk mendidik para guru yang sudah punya pengalaman tapi belum S1,” pungkas Untung.
Melalui PKKMB 2026/2027, Unipa Surabaya ingin mahasiswa baru tidak berhenti pada tahap mengenal lingkungan kampus. Mereka diarahkan untuk membangun kemampuan akademik, menguasai teknologi, memiliki jiwa kewirausahaan, serta menjaga integritas.
Bekal tersebut diharapkan membuat mahasiswa mampu menghadapi perubahan akibat perkembangan teknologi sekaligus menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto