Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Hadapi Burnout hingga Self-Harm, Mahasiswa di Surabaya Ini Dapat Pembekalan Kesehatan Mental
Advertisement . Scroll to see content

Bukan Cuma Soal Merawat Pasien, Mahasiswa Keperawatan STIKES di Surabaya Dibekali Skill Ini

Selasa, 08 September 2026 | 11:37 WIB
  • author Fahrezi Chandra
Bukan Cuma Soal Merawat Pasien, Mahasiswa Keperawatan STIKES di Surabaya Dibekali Skill Ini
Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya dibekali Interprofessional Collaboration untuk memperkuat komunikasi lintas profesi dan keselamatan pasien. Foto: Stikes Hang Tuah

Dalam pemaparannya, Prof. Afif menekankan bahwa tenaga kesehatan memiliki kompetensi dan kewenangan yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan menjadi penghalang, tetapi justru menjadi kekuatan ketika setiap profesi mampu menjalankan perannya dan berkoordinasi dengan baik.

Menurutnya, pelayanan kesehatan akan sulit berjalan maksimal jika seluruh pekerjaan dilakukan secara individual. Dibutuhkan komunikasi, koordinasi, serta sikap saling menghargai agar setiap tenaga kesehatan dapat memberikan kontribusi sesuai bidang keahliannya.

“Pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan secara optimal apabila dilakukan secara individual. Dibutuhkan kolaborasi, komunikasi, dan saling menghargai kompetensi masing-masing profesi untuk mencapai pelayanan yang aman dan berkualitas,” ujar Prof. Afif.

Ia menilai kemampuan bekerja dalam tim perlu dikenalkan sejak mahasiswa masih berada di bangku pendidikan. Dengan begitu, calon tenaga kesehatan tidak hanya memahami kompetensinya sendiri, tetapi juga mengetahui bagaimana profesi lain berperan dalam sebuah tim pelayanan.

Lingkungan pelayanan kesehatan pada kenyataannya melibatkan banyak bidang. Perawat akan berinteraksi dengan dokter, ahli gizi, petugas rekam medis, tenaga farmasi, maupun profesi kesehatan lainnya.

Kondisi tersebut membuat kemampuan komunikasi menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa kesehatan.

Selain komunikasi, mahasiswa juga perlu memahami batas kewenangan, mampu berdiskusi dalam mengambil keputusan, serta menghargai kontribusi anggota tim lainnya.

Pembelajaran Interprofessional Collaboration diharapkan dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai dinamika tersebut sebelum mereka terjun langsung ke dunia kerja.

Kolaborasi antarprofesi juga tidak bisa dilepaskan dari konsep patient-centered care atau pelayanan yang berpusat pada pasien.

Pendekatan tersebut menempatkan kebutuhan pasien sebagai salah satu fokus utama pelayanan. Untuk mewujudkannya, setiap profesi kesehatan tidak cukup hanya bekerja berdasarkan tugas masing-masing, tetapi juga perlu mengintegrasikan informasi dan tindakan dalam sebuah tim.

Prof. Afif mengatakan, pembentukan kemampuan kolaborasi sejak masa pendidikan menjadi penting karena mahasiswa nantinya akan menghadapi lingkungan kerja yang melibatkan berbagai profesi.

“Kolaborasi antarprofesi perlu dibangun sejak proses pendidikan karena mahasiswa kesehatan akan menghadapi lingkungan kerja yang melibatkan banyak profesi. Dengan memahami peran dan kompetensi masing-masing, komunikasi dalam tim dapat berjalan lebih efektif dan pada akhirnya mendukung keselamatan pasien,” jelasnya.

Ketua STIKES Hang Tuah Surabaya menyampaikan bahwa kuliah pakar tersebut merupakan bagian dari upaya institusi menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan profesional, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkomunikasi di lingkungan kerja.

Bagi mahasiswa, materi IPC memberikan perspektif yang lebih luas mengenai praktik pelayanan kesehatan. Mereka didorong untuk memahami bahwa keberhasilan pelayanan pasien merupakan hasil kerja bersama berbagai tenaga kesehatan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-31 STIKES Hang Tuah Surabaya. Pembahasan mengenai kolaborasi lintas profesi menjadi salah satu pembelajaran penting untuk mengenalkan mahasiswa pada kondisi pelayanan kesehatan yang sesungguhnya.

Melalui pemahaman Interprofessional Collaboration, mahasiswa diharapkan semakin siap membangun komunikasi dan kerja sama dengan tenaga kesehatan dari berbagai bidang, dengan tetap menghormati kompetensi serta batas kewenangan masing-masing profesi.

Pada akhirnya, kolaborasi yang terbangun sejak masa pendidikan diharapkan menjadi bekal bagi calon perawat untuk turut menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih terintegrasi, aman, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut