Tembus 128 Ribu TEUs, Arus Peti Kemas Pelabuhan Surabaya Melesat, Ekspor Kalahkan Impor
Produktivitas Bongkar Muat Lampaui Standar
Bukan hanya dari sisi volume, performa operasional TPS juga tercatat berada di atas standar yang ditetapkan pemerintah.
Selama Agustus 2026, produktivitas bongkar muat kapal di TPS mencapai rata-rata 52 box per ship per hour (B/S/H). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan standar minimum 48 box per ship per hour yang ditetapkan Kementerian Perhubungan melalui KSOP Utama Tanjung Perak.
TPS juga mencatat penguasaan pasar yang cukup besar di Pelabuhan Tanjung Perak. Pangsa pasar peti kemas internasional yang dikuasai TPS mencapai 83 persen.
Erika menyebut capaian tersebut menjadi bagian dari upaya TPS mempertahankan keandalan layanan sekaligus meningkatkan produktivitas operasional.
Peralatan Listrik Mulai Diperkuat
Peningkatan kinerja operasional tersebut turut didukung modernisasi peralatan di terminal. TPS telah menambah empat unit Electric Quay Container Crane (E-QCC) dan 14 unit Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG).
Penggunaan peralatan berbasis listrik diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi kegiatan bongkar muat, tetapi juga mendukung operasional pelabuhan yang lebih ramah lingkungan.
Dengan bertambahnya peralatan tersebut, TPS menargetkan produktivitas dapat terus ditingkatkan. Efisiensi proses bongkar muat diharapkan berdampak pada semakin cepatnya pelayanan kapal maupun penanganan peti kemas.
Erika menegaskan capaian 128 ribu TEUs pada Agustus 2026 menjadi sinyal positif bagi kinerja operasional TPS.
“Pencapaian throughput sebesar 128 ribu TEUs pada Agustus 2026 yang melebihi target perusahaan merupakan indikator positif bagi kinerja operasional TPS,” ujarnya.
Dia menambahkan, surplus arus peti kemas ekspor dibandingkan impor menjadi salah satu gambaran bahwa aktivitas perdagangan internasional, khususnya ekspor, masih menunjukkan pertumbuhan.
TPS, lanjut Erika, akan terus menjaga keandalan layanan, meningkatkan produktivitas, dan mendukung kelancaran rantai logistik nasional secara berkelanjutan.
Editor: Arif Ardliyanto