400 Tahun Berlalu, Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari Dibongkar: Ternyata Masih Relevan di Zaman Ini
MOJOKERTO, iNewsSurabaya.id – Empat abad setelah kelahirannya, nama Syekh Yusuf Al-Makassari kembali menjadi bahan perbincangan. Bukan sekadar karena sejarah perjuangannya melawan kolonialisme, tetapi juga karena pemikiran keislaman, jaringan keilmuan, dan nilai kemanusiaan yang diwariskannya dinilai masih relevan menghadapi persoalan kebinekaan saat ini.
Warisan tokoh yang dikenal memiliki jaringan intelektual lintas negara tersebut dibahas dalam Temu Narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman” yang digelar Direktorat Promosi Kebudayaan di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto.
Dalam forum tersebut, K.H. Ahmad Kholili Kholil menyoroti hubungan antara pemikiran tasawuf Syekh Yusuf dengan sikapnya terhadap penindasan. Menurutnya, perlawanan Syekh Yusuf terhadap kolonialisme tidak tepat dipahami sebatas sebagai sikap anti-orang asing.
“Bertasawuf itu adalah anti kezaliman, apa pun kezaliman itu. Bukan spesifik anti kolonial atau anti orang asing,” kata Kholili.
Ia menjelaskan, sikap tersebut justru memperlihatkan karakter Syekh Yusuf yang moderat dan terbuka. Perjuangannya tidak dibangun dari kebencian terhadap bangsa atau kelompok tertentu, melainkan dari penolakan terhadap penindasan dan despotisme.
Bagi Kholili, integritas menjadi salah satu kunci yang membuat pengaruh Syekh Yusuf mampu bertahan melampaui zaman. Ketokohannya tidak hanya menjadi bagian dari perjuangan agama, tetapi juga berkembang melalui jaringan keilmuan yang luas.
“Peninggalan Syekh Yusuf terbentang mulai dari Jerman, Mekkah, Madinah, Teheran, bahkan Princeton University di Amerika, juga di sepanjang Kepulauan Nusantara. Itu semua dicapai melalui pribadi yang berintegritas dan berprinsip,” ujarnya.
Syekh Yusuf lahir di Tallo, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626. Perjalanan intelektualnya kemudian membawanya ke berbagai pusat keilmuan Islam, mulai dari Aceh dan Banten hingga Mekkah, Yaman, dan Damaskus.
Di Banten, Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama, pendidik agama, sekaligus mufti. Ia juga terlibat dalam perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi kolonialisme Belanda.
Perjuangan tersebut berujung pada penangkapan dan pengasingan. Pada 1684, Syekh Yusuf dibuang ke Ceylon atau Sri Lanka sebelum kemudian dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan.
Namun, pengasingan tidak menghentikan aktivitas dakwahnya. Syekh Yusuf tetap menyebarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya pada 1699.
Jejak pemikirannya kemudian berkembang jauh melampaui wilayah Nusantara. Pemerintah Indonesia menetapkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional pada 1995. Kiprahnya juga memperoleh pengakuan di Afrika Selatan.
Momentum 400 tahun kelahirannya pun dinilai menjadi kesempatan untuk kembali melihat warisan intelektual dan nilai perjuangan Syekh Yusuf secara lebih luas.
Dalam upaya menjaga warisan intelektual Syekh Yusuf, Kholili berpandangan bahwa seluruh manuskrip yang berada di luar negeri tidak harus dibawa kembali ke Indonesia.
Menurutnya, digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga keberadaan manuskrip sekaligus membuat isinya lebih mudah dipelajari.
“Kalau saya pribadi sebagai pengamat naskah, jangan, tidak perlu. Karena lebih terjaga di sana. Cukup dikaji dan dicek versi digitalnya,” katanya.
Pandangan berbeda dalam forum tersebut muncul dari Dr. Ahmad Ginanjar Sya'ban, M.Hum. Ia melihat Syekh Yusuf bukan hanya sebagai bagian dari sejarah Indonesia, tetapi juga sebagai modal untuk memperkuat diplomasi kebudayaan.
Ginanjar mencontohkan bagaimana sejumlah negara mengangkat tokoh intelektual masa lalu sebagai bagian dari identitas dan pusat kebudayaan mereka. Turki, misalnya, mengenalkan Yunus Emre dan Rumi, sementara China memiliki Confucius Institute dan India menggunakan nama Maulana Azad untuk pusat kebudayaannya.
Menurut Ginanjar, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan intelektual yang tidak kalah besar. Karya ulama Nusantara sejak berabad-abad lalu ditulis dalam bahasa Arab dan dipelajari di berbagai pusat keilmuan Islam dunia.
“Indonesia ini punya barang, punya modal, tetapi belum mengemasnya untuk menjadi tools of diplomacy kebudayaan kita,” ujarnya.
Ia menyebut Syekh Yusuf, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdus Samad Al-Palimbani hingga Nawawi Al-Bantani sebagai sederet ulama Nusantara yang memiliki warisan intelektual dan berpotensi diperkenalkan lebih luas di tingkat internasional.
Ginanjar menilai pengenalan tokoh ulama Nusantara juga perlu menyasar generasi muda. Penyampaian sejarah tidak cukup jika hanya mengandalkan manuskrip, buku akademik, tesis, disertasi, atau jurnal.
Warisan pemikiran Syekh Yusuf, kata dia, perlu diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi saat ini.
“Perlu dengan logika anak-anak muda zaman sekarang. Misalkan dibuat film, dokumenter, video pendek, infografis, komik, dan media-media yang sesuai kebutuhan zamannya,” katanya.
Menurutnya, influencer juga dapat menjadi penghubung antara kajian sejarah dan generasi muda sehingga gagasan Syekh Yusuf tidak berhenti di ruang akademik.
Salah satu pemikiran yang dinilai masih relevan untuk diaktualisasikan adalah konsep Insan Kamil, yakni proses manusia menuju kesempurnaan rohani dan kebahagiaan sejati.
Dalam perspektif tasawuf, perjalanan tersebut berkaitan dengan upaya menyucikan diri dari berbagai penyakit hati, mulai dari keserakahan, iri, dengki, kesombongan hingga kebutuhan berlebihan terhadap validasi.
“Intinya ajaran yang bagaimana menghantarkan seorang manusia pada tingkat kesempurnaan rohaninya, sehingga dia bisa mencapai kebahagiaan yang sejati, bukan kebahagiaan yang semu,” jelas Ginanjar.
Ia menambahkan, kajian mengenai Syekh Yusuf sebenarnya sudah dilakukan melalui berbagai karya akademik, termasuk buku, disertasi, tesis, jurnal dan penerjemahan. Film dokumenter tentang tokoh tersebut juga telah dibuat, meski jumlahnya masih terbatas.
Temu Narasi di Mojokerto menjadi bagian dari rangkaian promosi ketokohan Syekh Yusuf yang berlangsung di enam wilayah Indonesia selama September-Oktober 2026.
Selain Jawa Timur, kegiatan serupa dijadwalkan berlangsung di Aceh, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Rangkaian tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali warisan Syekh Yusuf, sekaligus melihat bagaimana pemikirannya dapat dibaca dalam konteks masyarakat Indonesia dan dunia masa kini.
Editor: Arif Ardliyanto