Alat Pencacah Daging Disulap Jadi Mesin Pelet Ikan, Bisa Tekan Biaya Produksi Bikin UMKM Untung
Dalam konsep tersebut, sisa tanaman tidak langsung dibuang. Limbah tanaman dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan, sementara kotoran kelinci diolah menjadi kompos untuk mendukung pertumbuhan tanaman hidroponik.
“Limbah kelinci itu bisa menjadi kompos. Kita olah ada komposisinya. Komposisi itu yang nanti menjadi komposit di tanaman hidroponik kita. Nah, terus begitu siklusnya,” jelasnya.
Salah satu bagian menarik dari inovasi tersebut adalah pemanfaatan peralatan yang sudah tersedia di masyarakat. Untag Surabaya melakukan modifikasi agar alat pencacah daging dapat digunakan untuk menghasilkan pelet.
Mesin tersebut menggunakan motor penggerak, pisau pencacah, serta bagian pemotong untuk membentuk bahan menjadi butiran pakan sesuai kebutuhan.
Menurut Supangat, pendekatan itu dipilih agar teknologi yang dikembangkan tidak sulit diterapkan masyarakat. Alih-alih membuat mesin baru dengan biaya tinggi, peralatan yang sudah ada dapat dimodifikasi dan ditingkatkan fungsinya.
“Mesin itu dimodifikasi biar berdaya guna, tepat guna kepada masyarakat. Bahan yang sudah ada di masyarakat dan harganya murah tinggal dimodifikasi,” ungkap Supangat.
Konsep tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan teknologi sederhana bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang bergerak di bidang budidaya ikan. Penggunaan bahan yang relatif mudah diperoleh dan modifikasi peralatan menjadi salah satu pendekatan untuk menekan kebutuhan investasi awal.
Bagi Untag Surabaya, pengelolaan limbah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan kampus. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan kampus berkelanjutan.
Supangat menyebut pengelolaan limbah menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam upaya Untag Surabaya menuju World Class University.
“Bagian dari World Class University itu salah satunya bagaimana kita bisa menangani limbah,” tuturnya.
Selain mengembangkan sistem zero waste, Untag Surabaya juga menyiapkan langkah efisiensi energi. Salah satunya melalui rencana pemasangan solar cell di sejumlah rooftop kampus.
Pengembangan energi surya tersebut diarahkan untuk mendukung efisiensi penggunaan energi sekaligus melengkapi konsep kampus ramah lingkungan yang sedang dibangun.
“Di samping juga efisiensi energi yang nanti kita bangun solar cell di seluruh rooftop-rooftop itu,” pungkas Supangat.
Rangkaian inovasi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang, pengolahan limbah, teknologi tepat guna, hingga energi terbarukan dapat dirancang dalam satu ekosistem. Untag Surabaya pun berupaya menjadikan lingkungan kampus bukan sekadar tempat kegiatan akademik, tetapi juga ruang untuk mengembangkan solusi yang dapat diterapkan lebih luas di masyarakat.
Editor: Arif Ardliyanto