Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bukan Cuma Pintar, Ini Strategi Siswa Jatim Tembus Kampus di Inggris
Advertisement . Scroll to see content

Ukur Dampak Pelatihan Siswa Vokasi, Dindik Jatim Siapkan Tracer Study

Senin, 21 September 2026 | 09:11 WIB
  • author Saipul Yudi
Ukur Dampak Pelatihan Siswa Vokasi, Dindik Jatim Siapkan Tracer Study
Dindik Jatim menyiapkan tracer study untuk mengukur dampak program pelatihan peningkatan kompetensi vokasi terhadap siswa. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) menyiapkan tracer study untuk mengukur dampak program pelatihan peningkatan kompetensi vokasi terhadap siswa

Tracer study tersebut akan dilakukan setelah seluruh rangkaian pelatihan siswa tahun 2026 rampung. Pelatihan angkatan terakhir digelar di UPT Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK). Kegiatan ini digelar pada 13–19 September 2026 dan melibatkan 60 siswa dari sejumlah Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Jatim.

Para siswa mengikuti empat konsentrasi keahlian, yakni Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU), tata kecantikan, tata busana, dan tata boga. Selama sepekan, pembelajaran lebih banyak diarahkan pada praktik. Pembelajaran melibatkan tenaga ahli dari dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja (Dudika) serta dosen perguruan tinggi negeri (PTN).

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, evaluasi melalui tracer study penting untuk mengetahui output dan outcome dari pelatihan yang telah diberikan. “Bagaimana output dan outcome-nya, sehingga kita bisa tracer study. Berdampak atau tidak hasil pelatihan siswa ini," ujar Aries, Senin (21/9/2026).

Menurut Aries, pelatihan di UPT PTKK memberikan pengalaman berbeda karena siswa tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga berhadapan langsung dengan peralatan dan persoalan teknis yang ditemui di dunia kerja.

Saat berdialog dengan para peserta di sejumlah konsentrasi keahlian, Aries menyebut siswa mengaku lebih menikmati pembelajaran karena porsi praktik lebih besar dibandingkan teori.

"Setelah saya ngobrol dengan mereka di tiap konsentrasi keahlian, siswa mengaku senang mengikuti pelatihan karena lebih banyak praktik dibanding teori," katanya.

Keterlibatan instruktur dari Dudika dan PTN, lanjut Aries, juga membuat materi lebih implementatif. Siswa dilatih tidak hanya memahami penggunaan peralatan, tetapi juga menganalisis persoalan dan mencari solusi teknis.

Karena itu, Dindik Jatim berencana memperluas program tersebut melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). Sehingga lebih banyak siswa mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan. Penguatan fasilitas UPT PTKK juga menjadi perhatian.

“Sebab, beberapa siswa mengaku baru menggunakan alat yang cukup canggih dibandingkan dengan sekolahnya," jelas Aries.

Aries menegaskan, pelatihan tidak boleh berhenti setelah siswa menyelesaikan pembelajaran selama sepekan. Dengan waktu tiga bulan yang masih tersisa hingga akhir tahun, Dindik Jatim tengah membahas kemungkinan penambahan anggaran untuk memperpanjang program.

"Kita berharapnya jangan bulan September ini berakhir. Karena masih tersisa tiga bulan. Ya sampai selesailah. Dan sedang saya obrolkan ke Pak Sekretaris untuk ada penambahan anggaran pelatihan siswa di UPT PTKK," tegasnya.

Selain menjadi pusat pelatihan, UPT PTKK juga diproyeksikan berkembang menjadi laboratorium pembinaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai training center (TC) setelah siswa menjalani pembinaan tingkat provinsi.

"Ke depan saya berharap ini jadi laboratorium untuk LKS. Kalau kurang lengkap, ya dilengkapi. Ini laboratorium mereka. Berbulan-bulan setelah TC dari provinsi di sini dimatangkan skill-nya," ujarnya.

Salah satu peserta pelatihan TPTU, Abdul Latif Sasmito, siswa kelas XI SMKN 1 Kota Madiun, merasakan langsung perbedaan pembelajaran di UPT PTKK. 

Menurutnya, siswa lebih banyak dilatih menghadapi persoalan teknis secara langsung, mulai dari merancang, merakit hingga memperbaiki peralatan pendingin.

"Di sini lebih banyak praktik. Mempelajari sebuah masalah dan membuka pola pikir untuk menyelesaikan masalah. Meskipun hanya seminggu, teman-teman bisa merancang, merakit dan mengatasi perbaikan," katanya.

Latif menilai pengalaman memperbaiki AC menjadi salah satu materi penting karena berbeda dengan sekadar memasang perangkat. Siswa juga belajar mendiagnosis kerusakan hingga melakukan perbaikan.

"Masang AC mudah. Yang sulit perbaikan, merakit hingga jadi baru. Ini memakan waktu dan belum diajari di sekolah," ungkapnya.

Ia berharap UPT PTKK dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembinaan LKS karena fasilitas praktiknya dinilai lebih lengkap. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan juga diharapkan bisa ditularkan kepada siswa lain di sekolah.

"Harapannya mampu menguasai TPTU, baik AC, kulkas, maupun chiller. Output-nya bisa mengimbaskan ilmu kepada teman-teman dan hasil kegiatan ini bisa dimanfaatkan untuk LKS," pungkasnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut