Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Laptop Ini Bisa Dibanting dan Diinjak, Baterainya 99 Wh Diklaim Masih Aman Dibawa Naik Pesawat
Advertisement . Scroll to see content

Dari Ide hingga Jadi Bisnis, Ribuan Siswa SMA-SMK Mulai Belajar Jadi Entrepreneur Manfaatkan AI

Selasa, 22 September 2026 | 10:30 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Dari Ide hingga Jadi Bisnis, Ribuan Siswa SMA-SMK Mulai Belajar Jadi Entrepreneur Manfaatkan AI
Sebanyak 6.125 siswa SMA dan SMK di 10 kota mendapat pembelajaran kewirausahaan, mulai dari potensi lokal, literasi finansial hingga pemanfaatan AI. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

JAKARTA, iNewsSurabaya.id – Sebanyak 6.125 siswa SMA dan SMK di 10 kota mengikuti pembelajaran kewirausahaan pada tahun ajaran 2026–2027. Mereka tidak hanya dikenalkan pada cara memulai usaha, tetapi juga diajak membaca peluang dari potensi ekonomi di sekitar, memahami pengelolaan keuangan, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Pembelajaran tersebut dikembangkan melalui Zurich Entrepreneurship Program (ZEP). Pada fase kedua pelaksanaan program, materi kewirausahaan disesuaikan dengan perubahan dunia usaha yang semakin dipengaruhi teknologi dan pergeseran perilaku konsumen.

Sebelumnya, pada tahun pertama fase kedua, program tersebut telah menjangkau lebih dari 10.000 siswa. Dari proses pembelajaran itu, tercatat 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta.

Dalam pelaksanaannya, siswa tidak sekadar menerima materi di ruang kelas. Mereka diberi kesempatan mengembangkan gagasan bisnis hingga menjalankan usaha secara langsung melalui konsep Student Company.

Melalui model tersebut, siswa belajar mengenali kebutuhan pasar, merancang produk, membangun identitas usaha, mengatur kegiatan operasional, sekaligus mencatat dan mengelola keuangan.

Country Manager Zurich Indonesia Edhi Tjahja Negara mengatakan perubahan teknologi dan kondisi ekonomi membuat kemampuan membaca peluang menjadi semakin penting bagi generasi muda.

"Dunia usaha terus berubah seiring perkembangan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi," kata Edhi.

Menurut dia, pengalaman praktik diperlukan agar siswa tidak hanya memahami teori kewirausahaan, tetapi juga terbiasa mengambil keputusan dan beradaptasi dengan perubahan.

Salah satu pendekatan yang digunakan tahun ini adalah mengangkat kearifan lokal sebagai sumber ide bisnis. Siswa didorong melihat budaya, sumber daya, serta aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar sebagai bahan untuk mengembangkan produk atau jasa.

Penggunaan teknologi juga mulai menjadi bagian dari proses pembelajaran. AI diperkenalkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan ide bisnis, melakukan riset pasar sederhana, menyusun materi komunikasi, hingga mencari kemungkinan usaha baru.

Namun, siswa juga dibekali pemahaman agar penggunaan AI tidak menghilangkan peran kreativitas dan pertimbangan manusia.

"Siswa dibekali pemahaman untuk menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab sehingga mampu memaksimalkan manfaat teknologi tanpa mengabaikan aspek integritas dan kreativitas manusia," ujar Edhi.

Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation Adriana Poglia mengatakan perkembangan teknologi dan perubahan lanskap ekonomi menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi generasi muda.

"Kami berupaya memberikan mereka akses yang setara terhadap pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat membantu mereka memanfaatkan peluang tersebut serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan masyarakat," katanya.

Pembelajaran juga melibatkan guru, mentor Prestasi Junior Indonesia (PJI), serta karyawan dan agen Zurich Indonesia. Pendampingan tersebut memberikan siswa gambaran mengenai pengelolaan usaha, literasi finansial, serta situasi dunia kerja.

Di penghujung program, sejumlah bisnis pelajar yang dinilai menonjol akan mengikuti kompetisi pada tingkat regional dan nasional. Siswa yang terpilih juga memiliki kesempatan melanjutkan pengalaman ke ajang kewirausahaan pelajar tingkat internasional.

Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati menilai praktik langsung membangun usaha dapat membantu siswa menghubungkan kreativitas dengan potensi yang ada di lingkungan mereka.

"Pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai," ujarnya.

Menurut Utami, proses tersebut sekaligus menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan.

Fase kedua program ini ditargetkan menjangkau 16.975 siswa hingga 2028. Pembelajaran diarahkan untuk memperluas pengalaman kewirausahaan siswa agar lebih dekat dengan perkembangan teknologi, kondisi ekonomi, serta kebutuhan dunia kerja.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut