Masa Depan NU Ada di Tangan Perempuan Muda, Ini Fokus Baru Fatayat Surabaya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Masa depan organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga bagaimana kader disiapkan untuk melanjutkan perjuangan di masa mendatang. Prinsip tersebut menjadi perhatian utama Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Surabaya periode 2025-2030 di bawah kepemimpinan Camelia Habiba.
Penguatan kaderisasi menjadi salah satu agenda yang akan diperkuat selama masa kepengurusan. Fatayat NU Surabaya ingin memastikan perempuan muda NU memiliki kapasitas yang cukup untuk mengambil peran, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun organisasi.
Camelia Habiba mengatakan, Fatayat NU memiliki posisi strategis karena menjadi tempat pengkaderan perempuan muda. Kader yang dibentuk saat ini dinilai akan memiliki pengaruh terhadap keberlanjutan organisasi NU dalam beberapa tahun ke depan.
"Fatayat ini adalah emak-emak muda, mama-mama muda. Tentunya Fatayat ini adalah organisasi yang paling strategis. Fatayat ini adalah masa depan NU dan NU masa depan," jelasnya saat ditemui di sela pelantikan pengurus Fatayat NU Kota Surabaya, Selasa (22/9/2026).
Menurut Camelia, kaderisasi tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan rangkaian kegiatan yang mampu meningkatkan kemampuan sekaligus memperkuat semangat pengabdian para kader.
"Hari ini kita harus kuat bersama. Langkah-langkah ini harus dikuatkan, khidmat ini dikuatkan dalam rangka menyiapkan kader-kader. Karena memang organisasi Fatayat ini adalah organisasi pengkaderan," katanya.
Selain membangun organisasi, Fatayat NU Surabaya juga menempatkan peningkatan kapasitas perempuan sebagai bagian penting dari program kepengurusan.
Camelia menilai perempuan muda memiliki peran besar dalam keluarga, terutama dalam mendampingi tumbuh kembang anak dan membentuk karakter generasi berikutnya.
"Al-ummu madrasatul ula. Bagaimana kita mau menjadi madrasah untuk anak-anak kalau emaknya tidak smart," tuturnya.
Karena itu, program yang disiapkan tidak hanya menyasar kebutuhan organisasi. Fatayat juga mendorong peningkatan kemampuan kader melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
Salah satu program yang disiapkan adalah kolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dalam penguatan kemampuan membaca Al-Qur'an.
"Fatayat berkolaborasi dengan Kemenag untuk buta aksara Al-Qur'an. Karena apa? Al-Qur'an ini adalah modal kita salat," ujar Camelia.
Penguatan kader juga diarahkan pada sektor ekonomi. PC Fatayat NU Surabaya berencana melanjutkan program pemberdayaan UMKM dengan menyiapkan Rumah UMKM untuk Nahdliyin.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan penguatan kapasitas. Camelia menilai persoalan UMKM tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan modal.
"Ternyata UMKM itu gagalnya bukan di modal. Pemerintah kota sudah support modal. Ternyata mentalnya yang gampang menguntungkan seperti itu. Maka ini berkolaborasi, alhamdulillah di periode ini banyak universitas yang akan digandeng oleh Fatayat," ungkapnya.
Untuk memperkuat program tersebut, Fatayat NU Surabaya akan menggandeng sejumlah perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan pendampingan dan pengetahuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM.
"Ini adalah kolaborasi cantiknya Fatayat, kolaborasi dengan perguruan tinggi yang ada," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Surabaya Masduki Toha memberikan apresiasi terhadap kiprah Fatayat NU selama ini. Menurut dia, Fatayat menjadi salah satu badan otonom (banom) yang konsisten mendampingi berbagai kegiatan NU di Surabaya.
"Saya dengan Kiai Bari dengan teman-teman merasa sangat bangga sekali. Fatayat ini siap diajak untuk kolaborasi selama 24 jam. Setiap kegiatan Nahdlatul Ulama selama 3 tahun ini Fatayat selalu mendampingi kami. Baik pagi, siang, maupun malam," ungkap Masduki.
Masduki berharap konsistensi tersebut tidak berhenti di tingkat cabang. Keteladanan kader Fatayat, kata dia, perlu terus terasa hingga tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC), ranting, bahkan anak ranting.
"Sampaikan kepada warga NU, kepada warga Fatayat bahwa tauladan dan teladan Fatayat ini harus betul-betul kita rasakan di tingkat MWC, di tingkat ranting, bahkan di tingkat anak ranting," tandasnya.
Masduki juga menekankan tiga aspek yang menurutnya perlu menjadi perhatian kader Fatayat, yakni kesalehan religius, kesalehan ekonomi, dan kesalehan digital.
Perhatian terhadap aspek digital dinilai penting karena media sosial menjadi ruang yang sangat cepat dalam menyebarkan informasi. Kader NU diminta lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
"Terus terang saja saya minta ada tiga kesalehan yang harus kita sikapi, yakni kesalehan religius, ekonomi, dan digital. Apalagi hari ini pasca muktamar, Nahdlatul Ulama menjadi hujatan dan yang menghujat adalah warga kita sendiri," tuturnya.
Dia meminta kader Fatayat tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama melalui media sosial. Menurutnya, kemampuan menyaring informasi menjadi bagian dari tanggung jawab kader di tengah derasnya arus komunikasi digital.
Camelia Habiba Resmi Pimpin Fatayat NU Surabaya 2025-2030
Camelia Habiba resmi dilantik sebagai Ketua PC Fatayat NU Kota Surabaya Masa Khidmah 2025-2030. Pelantikan berlangsung di Convention Hall Arief Rahman Hakim, Surabaya, Selasa (22/9/2026), sekaligus dirangkai dengan Gema Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan tersebut mengusung tema "Menguatkan Perempuan Muda NU dalam Khidmah Keumatan dan Kebangsaan".
Pelantikan turut dihadiri Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur Siti Maulidah bersama jajaran pengurus dan kader Fatayat NU Kota Surabaya.
Agenda pelantikan sebelumnya direncanakan digelar pada bulan Syawal bersamaan dengan halal bihalal. Namun, rencana tersebut berubah setelah ketua umum sebelumnya meninggal dunia pada bulan Ramadan.
Pelantikan yang akhirnya digelar bersamaan dengan Gema Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi kepengurusan baru Fatayat NU Surabaya untuk memulai masa khidmah dengan agenda penguatan kader, pemberdayaan ekonomi, peningkatan kapasitas perempuan, hingga penguatan literasi digital.
Editor: Arif Ardliyanto