Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ketidakpastian Ekonomi Global Dorong Lonjakan Minat Investasi Emas
Advertisement . Scroll to see content

Penggunaan Produk Syariah Belum Optimal, Inklusi Baru 17 Persen

Jum'at, 25 September 2026 | 11:54 WIB
  • author Lukman Hakim
Penggunaan Produk Syariah Belum Optimal, Inklusi Baru 17 Persen
Kegiatan sosialisasi ekonomi syariah dalam rangkaian Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026 di Surabaya. (Foto : Lukman Hakim).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia terus menunjukkan kemajuan dalam satu dekade terakhir. Namun, peningkatan literasi belum sepenuhnya diikuti dengan perluasan inklusi atau penggunaan produk ekonomi dan keuangan syariah oleh masyarakat.

Koordinator Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026, Yono Haryono mengatakan, posisi Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Indicator kini berada di peringkat keempat dunia.

Posisi tersebut meningkat cukup jauh dibandingkan sekitar satu dekade lalu ketika Indonesia masih berada di peringkat ke-10. Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, posisi Indonesia mengalami penurunan dari peringkat ketiga menjadi keempat.

“Kalau kita lihat indikator State of the Global Islamic Economy yang dikeluarkan secara global, Indonesia saat ini menempati posisi keempat di dunia,” ujar Yono disela kegiatan Fesyar Regional Jawa 2026 di Surabaya, Jumat (25/9/2026).

Menurut dia, perkembangan tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang dilakukan Bank Indonesia bersama kementerian, lembaga, serta berbagai pemangku kepentingan. Termasuk melalui kegiatan Fesyar 2026.

Salah satu indikator yang menunjukkan peningkatan adalah tingkat literasi ekonomi syariah masyarakat. Yono menyebut hasil survei yang dilakukan pihaknya menunjukkan indeks literasi ekonomi syariah Indonesia telah mencapai sekitar 50 persen pada tahun lalu. “Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 30 persen,” katanya.

Meski literasi meningkat, Yono menyebut tingkat inklusi ekonomi syariah masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan survei yang dilakukan tahun lalu, tingkat inklusi ekonomi syariah masih berada di sekitar 17 persen.

Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mendorong masyarakat yang sudah memahami ekonomi syariah untuk benar-benar menggunakan produk dan layanan syariah.

“Inklusinya masih menjadi PR semua, baik ekonomi maupun keuangan. Survei kami tahun lalu inklusinya masih di angka 17 persen,” ujarnya.

Yono mengatakan peningkatan inklusi membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. Tidak hanya lembaga keuangan dan pemerintah, tetapi juga media massa untuk terus memperkenalkan ekonomi dan keuangan syariah kepada masyarakat.

“Bagaimana kita terus-menerus menggaungkan ekonomi keuangan syariah, sehingga bukan hanya literasinya yang meningkat, tetapi inklusinya juga,” katanya.

Yono menjelaskan, keterlibatan Bank Indonesia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah salah satunya didorong oleh besarnya potensi Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Menurut Yono, besarnya jumlah penduduk Muslim seharusnya tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga mampu mendorong Indonesia menjadi produsen dan pemain utama ekonomi syariah global.

“Dengan populasi yang besar, kita harusnya menjadi produsen, bukan hanya konsumen,” ujarnya.

Potensi tersebut juga terlihat dari keberadaan pelaku usaha berbasis syariah, termasuk pondok pesantren. Yono menyebut jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 40.000 dan memiliki potensi ekonomi yang besar.

“Kalau dilihat dari potensi ekonominya, itu sangat luar biasa. Ini yang kemudian mendorong Bank Indonesia bersama stakeholder lainnya untuk mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” katanya.

Sementara itu, Dr. Anisa Fadilah Zustika, S.E., M.E. menilai perkembangan ekonomi syariah sebenarnya tidak terlalu terkendala dari sisi produk, infrastruktur maupun regulasi.

Menurut Anisa, Indonesia telah memiliki berbagai instrumen ekonomi dan keuangan syariah, mulai dari perbankan, asuransi hingga pasar modal. Regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia juga dinilai telah tersedia.

“Sebetulnya yang membuat sulit berkembang itu bukan dari produknya. Secara produk ini sudah bagus dan sudah sesuai. Infrastruktur juga sudah banyak di Indonesia, mulai dari perbankan, asuransi, pasar modal dan sejenisnya,” jelasnya.

Dia menilai persoalan yang masih perlu diperkuat adalah literasi masyarakat. Rendahnya pemahaman membuat sebagian masyarakat belum mengenal produk-produk keuangan syariah sehingga pemanfaatannya belum optimal.

“Minimnya tingkat literasi masyarakat terhadap ekonomi syariah membuat masyarakat tidak kenal dengan produk syariah, sehingga mereka tidak memakai produk-produk dari syariah,” katanya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut