Sikap Politik Pusura di Usia 90 Tahun: Tetap Independen, Buka Komunikasi Lintas Kelompok
Pusura juga menyatakan kesiapannya membantu pemerintah kota ketika dibutuhkan, terutama dalam hal komunikasi maupun mediasi persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
"Kita sudah berkomunikasi dengan teman-teman, baik dalam sisi kegiatan yang positif. Kalau ada sesuatu yang perlu difasilitasi, dimediasi, kami-kami ini insyaallah siap untuk membantu pemerintah kota agar Surabaya tetap aman, nyaman, dan kondusif," ujar Hoslih.
Memasuki usia 90 tahun, Pusura ingin semangat tersebut tidak berhenti pada kegiatan internal organisasi. Nilai guyub rukun diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat persaudaraan warga Surabaya.
"Di usia yang ke-90 ini, kami ingin menegaskan kembali jati diri Pusura. Guyub Rukun Sinawung bukan sekadar slogan, melainkan landasan bagi kita semua untuk saling bertoleransi, bergandengan tangan, dan menjaga kondusivitas serta persaudaraan di Surabaya," tuturnya.
Pemkot: Surabaya Dibangun Bersama
Sementara itu, Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Hukum dan Pemerintahan, Drs. Dedi Irianto, M.M., yang mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa perjalanan 90 tahun Pusura merupakan bagian dari perjalanan panjang sejumlah generasi di Kota Surabaya.
Menurutnya, generasi pendiri telah meninggalkan lebih dari sekadar organisasi. Ada nilai kebersamaan, kebajikan, serta kecintaan terhadap bangsa yang perlu diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Para pendiri bukan hanya meninggalkan sebuah organisasi, tetapi juga semangat kebersamaan, kebajikan, dan kecintaan kepada bangsa Indonesia,” katanya.
Dedi menilai semangat guyub rukun merupakan salah satu kekuatan masyarakat Surabaya. Pembangunan kota, menurutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
“Kalau warga Surabaya sudah bersatu, insyaallah kesulitan apa pun bisa kita hadapi,” ujarnya.
Ia berharap Pusura dapat terus menjadi rumah besar bagi warga Surabaya. Organisasi tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menjaga sejarah sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
“Surabaya membutuhkan generasi penerusnya. Mereka harus mengenal sejarah, mengetahui siapa yang telah berjuang untuk mereka, dan memiliki kesungguhan untuk menentukan masa depan,” tuturnya.
Dedi menambahkan, generasi muda perlu memahami karakter Surabaya, bukan sekadar mengenal nama kota dan tokoh-tokohnya. Nilai keberanian, kepedulian, pantang menyerah, serta gotong royong dinilai menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Surabaya.
Ia pun mengapresiasi keluarga besar Pusura yang selama 90 tahun menjaga eksistensi organisasi, merawat silaturahmi, serta mempertahankan nilai sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan Kota Surabaya.
“Semoga organisasi ini semakin solid, semakin hidup, semakin bermanfaat bagi masyarakat, dan terus menjadi bagian penting dalam perjalanan Surabaya,” katanya.
Dedi kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kota Surabaya.
“Surabaya bukan hanya tempat kita tinggal. Surabaya adalah rumah yang harus kita jaga,” pungkasnya.
Editor: Arif Ardliyanto