Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Putra Surabaya, Risyad Fahlefi Terpilih Jadi Ketua Umum GMNI 2025–2028 Secara Aklamasi
Advertisement . Scroll to see content

Sikap Politik Pusura di Usia 90 Tahun: Tetap Independen, Buka Komunikasi Lintas Kelompok

Minggu, 27 September 2026 | 06:00 WIB
  • author Trisna Eka Adhitya
Sikap Politik Pusura di Usia 90 Tahun: Tetap Independen, Buka Komunikasi Lintas Kelompok
Pusura memasuki usia 90 tahun dengan menggagas wadah komunikasi lintas kelompok untuk memperkuat guyub rukun dan menjaga Surabaya tetap aman serta kondusif. Foto iNewsSurabaya.id/trisna

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Usia 90 tahun menjadi momentum bagi Perkumpulan Putra Surabaya (Pusura) untuk memperluas peran di tengah masyarakat. Tidak hanya menjaga eksistensi organisasi, Pusura mendorong terbentuknya ruang komunikasi lintas kelompok sebagai upaya memperkuat kebersamaan dan menjaga Surabaya tetap aman serta kondusif.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Umum Pusura Hoslih Abdullah dalam peringatan 90 tahun Pusura yang digelar pada 26 September 2026. Pusura sendiri berdiri pada 26 September 1936.

Hoslih menegaskan, selama sembilan dekade perjalanan organisasi, Pusura berupaya mempertahankan independensi dan tidak terafiliasi dengan kelompok politik maupun kepentingan tertentu.

"Alhamdulillah, malam ini kita dapat hadir dalam rangka ikut serta memperingati hari jadi Pusura yang ke-90 tahun. Lahir tanggal 26 September 1936 sampai hari ini tepat 26 September 2026, 90 tahun kita sudah bersama-sama Pusura, khususnya para pengurus yang alhamdulillah ikut menjaga Pusura selalu pada posisi tetap independensi, tidak terafiliasi ke mana-mana," ujar Hoslih.

Menurutnya, keberagaman masyarakat Surabaya menjadi alasan penting untuk memperkuat komunikasi antarelemen. Perbedaan latar belakang, komunitas, suku, hingga pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.

Karena itu, Pusura menggagas wadah komunikasi yang dapat mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. Ruang tersebut diharapkan menjadi tempat berdiskusi, bertukar pandangan, sekaligus mencari jalan keluar bersama ketika muncul persoalan sosial di tengah masyarakat.

Hoslih menyebut konsep tersebut memiliki kemiripan dengan tradisi "sinoman" yang lekat dengan semangat guyub, gotong royong, dan saling membantu.

"Dulu ada namanya terkenal Sinoman itu. Jadi Sinoman mungkin ada apa guyuban nanti bisa diskusi barangkali kalau memang kita sama-sama sepakat semua untuk kebaikan Surabaya ke depan," katanya.

Ia menegaskan, wadah tersebut bukan diarahkan menjadi organisasi baru yang eksklusif. Sebaliknya, konsep yang ditawarkan adalah ruang terbuka bagi berbagai elemen untuk membangun komunikasi dan menjaga hubungan sosial.

"Kita sama-sama guyub, kita bersama rukun meskipun berbeda pendapat. Sinau, belajar bersama. Intinya keberagaman tercipta dalam tema ini," ucapnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut