Hilirisasi Nikel Ubah Peta Industri Global, Indonesia Jadi Produsen Terbesar
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kebijakan hilirisasi nikel yang konsisten dijalankan pemerintah dalam satu dekade terakhir mulai mengubah posisi Indonesia dalam industri nikel global.
Dari sebelumnya lebih dikenal sebagai eksportir bijih, Indonesia kini berkembang menjadi salah satu pusat produksi nikel olahan dunia.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kebijakan tersebut telah mendorong investasi di sektor pengolahan sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Menurut Yusuf, larangan ekspor bijih nikel menjadi salah satu kebijakan penting yang mendorong pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan atau smelter di Indonesia.
“Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan,” kata Yusuf, Senin (28/9/2026).
Dalam satu dekade terakhir, perubahan tersebut tercermin dari melonjaknya produksi nikel olahan Indonesia. Pangsa produksi nasional disebut meningkat dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen dari total produksi nikel olahan dunia.
Indonesia bahkan disebut telah menggeser China sebagai produsen nikel olahan terbesar di dunia. Perubahan tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri nikel global.
Besarnya pangsa produksi membuat kebijakan pengaturan pasokan menjadi semakin penting. Yusuf menilai langkah pemerintah melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dapat menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar.
Menurut dia, pengendalian produksi dapat membantu menjaga harga nikel sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara.
Namun, kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan kebutuhan bahan baku industri pengolahan di dalam negeri. Jangan sampai pengurangan produksi justru membuat smelter kesulitan mendapatkan pasokan.
“Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku,” ujarnya.
Yusuf menilai manfaat hilirisasi juga mulai terlihat dari peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja di kawasan industri.
Ke depan, manfaat tersebut dinilai masih dapat diperbesar melalui pengendalian produksi yang tepat, pemberian insentif fiskal yang terarah, serta peningkatan standar lingkungan dan ketenagakerjaan.
Menurut Yusuf, dominasi Indonesia dalam produksi nikel olahan memberikan modal tawar yang besar di pasar global. Namun, besarnya pangsa produksi belum otomatis membuat Indonesia memperoleh nilai ekonomi maksimal dari sumber daya tersebut.
“Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri,” katanya.
Dengan demikian, tantangan hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan produksi nikel olahan. Indonesia juga perlu memastikan semakin banyak tahapan pengolahan dan nilai ekonomi yang tetap berada di dalam negeri.
Pandangan serupa disampaikan Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita. Ia menilai hilirisasi telah menghasilkan perubahan struktural dalam industri nikel nasional.
Mengacu pada data Our World in Data yang berbasis British Geological Survey, Ronny menyebut produksi nikel olahan Indonesia melonjak lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.
“Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural,” ujar Ronny.
Dampak hilirisasi juga tercermin dari besarnya investasi yang masuk ke sektor tersebut. Ronny mencatat investasi hilirisasi pada semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun, atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Sementara sepanjang 2025, investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp584,1 triliun.
Menurut dia, investasi tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas industri pengolahan, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian.
“Masuknya investasi tersebut menciptakan efek berganda berupa pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan nilai ekspor, serta semakin dalamnya basis manufaktur nasional,” katanya.
Editor: Arif Ardliyanto