Makna di Balik Pertemuan Prabowo dan Megawati
Identitas Prabowo sebagai Presiden dan Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan tentu tidak hilang, tetapi dalam ruang tersebut keduanya juga hadir dalam sebuah hubungan antarmanusia.
Yang menarik dari pertemuan ini bukanlah dugaan tentang apa yang mungkin dinegosiasikan, melainkan fakta yang terlihat: perbedaan posisi politik tidak menghalangi keduanya untuk saling datang, menerima, duduk bersama, dan berkomunikasi secara langsung.
Jarak dan posisi tubuh juga mempunyai arti dalam komunikasi. Edward T. Hall, melalui kajian mengenai proxemics, menunjukkan bahwa manusia berkomunikasi tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui penggunaan ruang dan jarak.
Tentu kedekatan fisik tidak dapat begitu saja diterjemahkan menjadi kedekatan politik. Namun, dokumentasi Prabowo dan Megawati yang duduk berdekatan di ruang yang relatif personal menghasilkan kesan visual yang berbeda dibandingkan dengan jika keduanya duduk berseberangan dalam pertemuan resmi.
Tidak ada meja rapat panjang yang memisahkan keduanya, tidak ada podium, dan tidak ada atribut yang lazim menyertai perundingan politik. Hal-hal tersebut tidak membuktikan adanya perubahan dalam hubungan politik.
Namun secara komunikatif, suasana itu memperlihatkan sesuatu yang lebih sederhana: jarak politik tidak selalu identik dengan jarak personal. Hubungan antartokoh dapat mempunyai dimensi yang lebih kompleks daripada posisi formal mereka dalam politik.
Aspek lain yang menarik terletak pada siapa saja yang berada di sekitar Prabowo dan Megawati. Megawati didampingi Puan Maharani dan Said Abdullah, sedangkan Prabowo hadir bersama Sufmi Dasco Ahmad, Prasetyo Hadi, dan Teddy Indra Wijaya.
Mereka memiliki kedudukan formal dan alasan kehadiran yang berbeda, sehingga tidak tepat jika formasi tersebut langsung disebut sebagai tim politik, apalagi sebagai tim perunding. Namun, dalam komunikasi visual, orang-orang di sekitar figur utama ikut memberikan konteks tentang bagaimana sebuah foto dibaca.
Editor: Arif Ardliyanto