Dari Bengkel Kecil Jadi Busana Kekinian, UMKM Ini Bikin Tradisi Tetap Eksis
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Di bawah cahaya alami yang menyusup dari jendela berteralis, sehelai blus di atas mannequin seperti sedang menunggu sebuah cerita diselesaikan. Motif batik berwarna navy bertemu garis-garis lurik merah yang dinamis. Keduanya tidak saling berebut perhatian. Justru berpadu seperti dua nada yang menemukan harmoni setelah dimainkan berulang kali.
Soesilaningtyas Soekotjo berdiri di hadapannya. Hijab merah membingkai wajah perempuan itu. Kacamata bertengger tenang di pangkal hidung. Tangannya merapikan bagian kerah, sesekali mengancingkan bagian depan blus, kemudian mundur beberapa langkah untuk melihat keseluruhan bentuk.
Di sampingnya, Maisaroh mengenakan hijab cokelat. Ia memperhatikan dengan saksama. Sesekali tangannya menyentuh bagian lengan blus, memeriksa garis jahitan dan jatuhnya kain.
Tidak ada panggung. Tidak ada lampu sorot. Hanya sebuah bengkel kerja di kawasan Perumahan Wiyung Indah Timur, Kelurahan Wiyung, Kecamatan Wiyung, Surabaya. Namun, dari ruang sederhana itu, sepotong warisan budaya Indonesia sedang diberi kehidupan baru.

Batik tidak lagi hanya hadir sebagai kain yang dilipat rapi di lemari atau dikenakan pada acara resmi. Di tangan Soesilaningtyas, batik dipotong, disusun, dipadukan, kemudian dijahit menjadi busana yang dekat dengan kehidupan perempuan masa kini.
Ada blazer. Ada busana kerja. Ada atasan dengan potongan modern. Ada pula perpaduan batik dengan lurik dan bahan lain yang membuat kain tradisional itu terasa lebih ringan ketika dibawa ke ruang-ruang modern. “Sejak 2012 saya menggeluti fashion batik kekinian,” ujar Soesilaningtyas, Rabu (30/9/2026).
Perjalanan itu tidak serta-merta dimulai dari dunia fashion. Lulusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) ini sebelumnya lebih dahulu akrab dengan dunia jahit-menjahit dan kerajinan tangan.
Dari keterampilan itu, perlahan tumbuh keinginan untuk menciptakan sesuatu yang lebih personal. Ia mulai mengumpulkan kain batik dari berbagai daerah. Tuban, Madura, Pacitan, Cirebon, dan sejumlah daerah lain di Jawa menjadi bagian dari perjalanan pencarian bahan.
Setiap kain membawa karakter sendiri. Ada yang kuat pada warna. Ada yang berbicara melalui motif. Ada yang menyimpan kesan tradisional begitu kental. Bagi Soesilaningtyas, perbedaan tersebut bukan penghalang, melainkan bahan bakar kreativitas.
Editor: Arif Ardliyanto