Dari Bengkel Kecil Jadi Busana Kekinian, UMKM Ini Bikin Tradisi Tetap Eksis
Kain-kain itu kemudian tidak dibiarkan berhenti sebagai komoditas. Ia mengubahnya menjadi pakaian. Prosesnya panjang. Sebelum gunting menyentuh kain, ada gagasan yang harus ditemukan. Sebelum jarum mesin jahit bergerak, ada bentuk yang harus dibayangkan.
Inspirasi datang dari banyak arah. Mulai dari majalah mode, media sosial, pelatihan, pameran, hingga percakapan dengan para desainer. Dari sanalah Soesilaningtyas mencoba menemukan titik temu antara tradisi dan selera zaman.
Batik tetap menjadi batik, tetapi bentuk pakaiannya tidak harus selalu sama seperti masa lalu. Di meja kerja Dizza Batik Fashion, gagasan itu kemudian diterjemahkan menjadi pekerjaan yang sangat teknis.
Maisaroh duduk di depan mesin overlocker. Tangannya mengarahkan kain secara perlahan. Jarum mesin bergerak cepat, sementara matanya tetap tertuju pada bagian tepi kain yang sedang dirapikan.
Suara mesin menjadi semacam musik latar bagi bengkel kecil itu. Benang-benang dengan beragam warna tersusun di belakangnya. Beberapa mannequin berdiri menunggu giliran. Sebagian pakaian masih berupa potongan kain, sebagian lainnya telah hampir selesai.
Di tempat seperti inilah sebuah desain diuji. Bukan hanya apakah ia indah ketika dipandang, tetapi apakah nyaman dikenakan. Apakah jahitannya cukup kuat. Apakah potongan kain jatuh dengan baik. Apakah motif bertemu pada posisi yang tepat.
Bagi sebuah usaha fesyen, detail kecil bisa menentukan apakah sebuah pakaian sekadar selesai dijahit atau benar-benar layak dikenakan.
Soesilaningtyas memahami itu.
Ia kembali berdiri di depan mannequin. Kali ini dari sudut pandang berbeda. Ia mengamati bagian bahu, kerah, lengan, hingga pertemuan antara batik dan lurik. Maisaroh berada di dekatnya.
Ada hubungan yang lebih luas dari sekadar pemilik usaha dan pekerja di antara keduanya. Ada proses berbagi keterampilan. Ada kebiasaan untuk saling memeriksa pekerjaan. Ada pengetahuan yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Sebab, sebuah pakaian yang terlihat sederhana di etalase sebenarnya menyimpan banyak keputusan.
Di balik satu blus, ada pemilihan kain. Ada pencarian motif. Ada pengukuran. Ada pemotongan. Ada jahitan. Ada pemeriksaan ulang. Ada waktu. Dan ada seseorang yang mengenakannya untuk menjalani hari.
Pasar Dizza Batik Fashion pun berkembang dari lingkup sekitar Surabaya. Pesanan datang dari perempuan muda hingga perempuan dewasa. Sebagian merupakan perempuan yang bekerja di perkantoran dan membutuhkan pakaian batik yang tetap pantas untuk ruang profesional, tetapi tidak terasa kaku.
Pesanan juga datang dari luar kota, termasuk Jakarta dan sejumlah daerah lain di Indonesia.
Omzet usaha tersebut disebut dapat mencapai sekitar Rp30 juta per bulan.
Angka itu mungkin tidak berbicara banyak tanpa melihat proses panjang di belakangnya. Sebab, bagi pelaku UMKM fesyen, pendapatan bukan sekadar hasil penjualan. Di dalamnya terdapat biaya kain, benang, produksi, tenaga kerja, pemasaran, hingga kebutuhan untuk menjaga usaha tetap berputar.
Soesilaningtyas tidak hanya mengandalkan produksi. Pameran menjadi salah satu pintu penting untuk bertemu konsumen. Ia mengikuti berbagai kegiatan dan event yang membuka kesempatan bagi produk lokal untuk bertemu langsung dengan pasar. Dari pameran pula ia belajar bahwa menjual pakaian tidak cukup dengan menunggu pembeli datang.
Cara memperkenalkan produk ikut menentukan masa depan usaha. Media sosial kemudian menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dunia digital membuka ruang yang sebelumnya dibatasi jarak. Sebuah produk yang dibuat di Wiyung dapat diperkenalkan kepada calon pembeli di kota lain.
Bagi Soesilaningtyas, pengalaman mengikuti pameran dan mendapatkan kesempatan membuka stan di pusat perbelanjaan di Surabaya menjadi bagian penting dalam mengembangkan usaha.
Di sana, ia tidak hanya menjual. Ia belajar membaca pasar. Apa yang disentuh calon pembeli. Warna apa yang menarik perhatian. Model seperti apa yang dicari. Berapa lama orang melihat sebuah pakaian sebelum memutuskan membelinya. Semua menjadi pengetahuan.
Perjalanan Dizza Batik Fashion itu berlangsung di tengah ekosistem UMKM Jawa Timur yang besar. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, menyebut UMKM di provinsi ini mencapai 4,58 juta unit usaha atau sekitar 99,72 persen dari struktur usaha daerah. Kontribusinya terhadap PDRB Jawa Timur mencapai 60,08 persen pada 2024.
Kini, tangannya bukan hanya membuat produk. Pelaku usaha perlu membuat produk yang mampu bertahan. Saat membuka Batik Bordir & Aksesoris Fair 2026 di Grand City Mall Surabaya, Arumi menekankan pentingnya kualitas sebagai fondasi bagi UMKM yang ingin memperluas skala usaha.
Menurut dia, naik kelas tidak hanya berarti meningkatkan produksi, tetapi juga menyangkut kualitas, desain, standar, dan cara pemasaran. “Naik kelas itu artinya kualitas produknya meningkat, standarnya lebih baik, desainnya lebih kuat, dan cara memasarkannya juga lebih profesional,” ujar Arumi.
Kalimat itu menemukan relevansinya di bengkel Dizza Batik Fashion. Sebab, upaya menjadikan batik sebagai busana kekinian pada dasarnya merupakan proses mempertemukan kualitas tradisi dengan kebutuhan pasar. Batik tidak harus kehilangan identitas agar bisa diterima generasi muda.
Sebaliknya, ia dapat memperoleh napas baru melalui desain. Arumi juga mendorong transformasi batik dari sekadar komoditas menjadi identitas yang memiliki nilai tambah melalui cerita dan sejarah yang melekat pada produk. Penguatan desain, branding, storytelling, serta pemasaran digital disebut sebagai bagian dari upaya memperluas pasar UMKM kriya Jawa Timur.
Di titik itu, batik bukan hanya perkara motif. Ia menjadi cerita tentang tempat asal kain, tangan yang membuatnya, gagasan orang yang mendesainnya, hingga orang yang akhirnya mengenakannya.
Jawa Timur sendiri memiliki kekayaan batik yang tersebar di berbagai daerah. Pamekasan dengan Batik Madura, misalnya, menjadi salah satu produk wastra yang terus diperkenalkan dalam berbagai ruang promosi. Pada Juli 2026, Koperasi Explore di Pamekasan menghadirkan 157 stan koperasi dan UMKM dari berbagai daerah Jawa Timur.
Pada September 2026, produk UMKM Jawa Timur juga dibawa ke MTQ Nasional XXXI di Semarang. Batik Madura dari Pamekasan termasuk produk fesyen daerah yang ditampilkan dalam stan UMKM Jawa Timur.
Ruang-ruang promosi semacam itu penting karena pasar batik hari ini tidak lagi hanya berada di satu kota. Kain bisa berpindah.
Desain bisa berpindah. Cerita pun dapat berpindah. Tetapi agar perpindahan itu menghasilkan transaksi, pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan cara orang membeli.
Ekonom Universitas Muhammadiyah Surabaya, Zeni Rusmawati mengingatkan, pentingnya penguasaan teknologi bagi pelaku UMKM. Menurutnya, teknologi dapat membantu pemasaran sekaligus pengelolaan keuangan usaha.
“Teknologi itu adalah sebuah keniscayaan, jadi mau tidak mau harus tetap mengikuti perkembangan teknologi, termasuk juga bagi para pelaku UMKM,” kata Zeni.
Ia juga menyebut marketplace daring dapat dimanfaatkan untuk pemasaran, sementara aplikasi pembukuan dapat membantu pengelolaan keuangan. Bagi Dizza Batik Fashion, tantangan itu berjalan beriringan dengan kreativitas.
Di satu sisi, Soesilaningtyas harus terus membaca perubahan selera. Di sisi lain, ia perlu menjaga agar batik tidak sekadar menjadi tempelan pada pakaian modern. Sebab, ada batas tipis antara inovasi dan kehilangan karakter.
Di bengkel itu, batas tersebut dijaga melalui pilihan kain, perpaduan warna, serta potongan busana. Ketika Soesilaningtyas kembali mengancingkan blus pada mannequin, tangannya berhenti sejenak di bagian kerah. Ia memperhatikan sekali lagi.
Maisaroh berdiri di sampingnya. Tidak banyak kata yang diperlukan. Mereka sudah tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Mesin overlocker kembali menyala. Kain bergerak perlahan di bawah jarum. Benang membentuk garis rapi di tepi bahan.
Di luar bengkel, dunia mode terus bergerak. Tren berubah. Warna berganti. Selera konsumen bergeser. Generasi baru datang dengan cara pandang berbeda terhadap pakaian dan identitas. Namun, batik tetap memiliki ruang.
Soesilaningtyas memilih jalan itu.bIa mengambil kain yang lahir dari tradisi, membawanya ke meja potong, mempertemukannya dengan pola modern, lalu membiarkan mesin jahit menyatukan semuanya.
Dari tangan-tangan kecil di sebuah bengkel di Wiyung, batik kemudian menjelma menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian. Sebuah blus untuk bekerja, blazer untuk bertemu klien, atau busana yang dikenakan perempuan muda ketika ingin tampil modern tanpa meninggalkan akar budayanya.
Editor: Arif Ardliyanto